<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-607018575664909321</id><updated>2011-09-17T07:58:46.179-07:00</updated><category term='psikologi'/><category term='essai'/><category term='kisah'/><category term='berita'/><category term='terjemahan'/><category term='puisi'/><category term='cerpen'/><category term='artikel'/><category term='essai sastra'/><category term='sosial'/><title type='text'>Candrakris Weblog</title><subtitle type='html'>What is a man? Man is Spirit..is Itself..is a Syntetic..is not his own self</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://candrakris.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/607018575664909321/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://candrakris.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>candrakris</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01491464186327619483</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://4.bp.blogspot.com/-h3YLepbKi5g/TWJYwq6xOAI/AAAAAAAAAIc/pAqdjIx0j5A/s220/BMK%2B3%2B218.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>22</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-607018575664909321.post-21465893301177526</id><published>2011-02-21T03:34:00.000-08:00</published><updated>2011-02-21T03:57:20.793-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kisah'/><title type='text'>Anak-anak Pinggiran Sungai</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-cjolhz1xWss/TWJN1QHVJXI/AAAAAAAAAIU/GToXkQk6Cvc/s1600/BMK%2B3%2B208.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 182px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-cjolhz1xWss/TWJN1QHVJXI/AAAAAAAAAIU/GToXkQk6Cvc/s200/BMK%2B3%2B208.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5576104865892214130" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Keceriaan itulah yang selalu tergambar pada anak-anak. Di mana pun mereka tinggal, mereka akan mencari kegembiraan dengan berbagai permainan. Tak terkecuali kakak beradik dalam foto ini. Mereka menggunakan sampah plastik sebagai topeng dalam permainan mereka. Barangkali dalam imajinasinya, dengan mengenakan topeng itu mereka membayangkan diri mereka sebagai tokoh tertentu. Ah, anak-anak!!!&lt;br /&gt;Sebut saja mereka Ari dan Agung, dua orang bocah yang tinggal di daerah sempadan sungai. Letak rumah mereka hanya berjarak 10 meter dari bibir sungai. Apabila musim hujan tiba dan bersamaan dengan pasangnya air laut, air sungai akan naik dan merendam rumah mereka dan perkampungan di sekitarnya. Mereka tidur di meja atau pun di tempat-tempat yang lebih tinggi jika banjir merendam rumah mereka. &lt;br /&gt;Tempat mereka tinggal tepatnya berada di wilayah Medokan Semampir Timur Dam. Kata orang kampung itu tidak eksis dalam peta kota Surabaya. Letaknya di pinggiran hilir sungai Jagir. Tempat tinggalnya pun terletak paling ujung dari perkampungan di sepanjang sempadan sungai. Karena letaknya yang terpencil itulah Pakde kedua bocah itu menjadikan tempat itu sebagai gudang sekaligus pabrik pengolahan plastik. &lt;br /&gt;Di sana terdapat sebuah mesin pencacah plastik. Dari tempat itu terdengar deru mesin setiap harinya. Tempat tinggalnya penuh dengan berbagai macam sampah plastik membuat mereka begitu akrab dengan sampah plastik. Selain bergelut dengan plastik mereka juga mengenal alam di sekitar mereka. Bapak mereka bekerja sebagai tenaga pengangkut sampah di salah satu pertokoan di Surabaya. Selain itu dia juga menggembalakan kambing milik saudaranya dengan sistem gadon. Pada hari-hari tertentu dia mengajak kedua kakak beradik itu memancing baik di sungai di depan rumah mereka mau pun di tambak yang berada di belakang rumah mereka. Dari situ mereka mengenal struktur &lt;span style="font-style:italic;"&gt;walesan&lt;/span&gt; (joran) yang bagus, mata kail yang bagus, cacing yang segar sebagai umpan, atau pun tempat-tempat di mana ikan biasa berkumpul di sungai.&lt;br /&gt;Dengan lingkungan serupa itu mereka tumbuh dan besar. Kelak, siapa yang tahu kalau anak-anak itu akan menjadi kisah tersendiri dalam catatanku.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/607018575664909321-21465893301177526?l=candrakris.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://candrakris.blogspot.com/feeds/21465893301177526/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=607018575664909321&amp;postID=21465893301177526' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/607018575664909321/posts/default/21465893301177526'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/607018575664909321/posts/default/21465893301177526'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://candrakris.blogspot.com/2011/02/anak-anak-pinggiran-sungai.html' title='Anak-anak Pinggiran Sungai'/><author><name>candrakris</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01491464186327619483</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://4.bp.blogspot.com/-h3YLepbKi5g/TWJYwq6xOAI/AAAAAAAAAIc/pAqdjIx0j5A/s220/BMK%2B3%2B218.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-cjolhz1xWss/TWJN1QHVJXI/AAAAAAAAAIU/GToXkQk6Cvc/s72-c/BMK%2B3%2B208.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-607018575664909321.post-1381788637093545261</id><published>2010-12-20T08:49:00.000-08:00</published><updated>2010-12-20T08:51:53.563-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Asal Mula Bahasa</title><content type='html'>Sebagai alat interaksi yang bersifat terbuka dan produktif, bahasa telah berkembang sedemikian rupa. Dulu orang-orang menggunakan bentuk-bentuk bahasa tradisional seperti dalam menulis surat. Namun setelah diciptakannya teknologi telegram, bentuk-bentuk bahasa tradisional tersebut mengalami perubahan. Tuntutan untuk meminimalkan jumlah karakter yang ditulis menyebabkan kata-kata mulai dirampingkan dan bentuk-bentuk bahasa tradisional tidak lagi digunakan. Saat ini, dengan kemajuan teknologi komunikasi yang semakin pesat, bentuk-bentuk bahasa mengalami perampingan secara massal. Hal serupa ini dapat ditemui dalam pesan-pesan singkat di telepon selular (Short Message Service).&lt;br /&gt;Akibat kemajuan teknologi komunikasi perkembangan bahasa tidak hanya pada terbatas pada perampingan bentuk saja. Mudahnya berkomunikasi dengan masyarakat tutur lain (speech community) dapat menyebabkan makin bertambahnya perbendaharaan kosakata suatu masyarakat tutur tertentu lewat proses penyerapan bahasa. Kata-kata seperti outbond, tennis indoor, etc, sangat sering dijumpai pada masyarakat tutur bahasa Indonesia. &lt;br /&gt;Perkembangan bahasa ini merupakan hal yang alamiah. Sesuai dengan sifatnya, bahasa memiliki kemampuan untuk berkembang sesuai dengan keinginan dan tuntutan masyarakat penggunanya. Tapi yang tidak banyak diketahui adalah, bagaimanakah asal mula bahasa sehingga berkembang sedemikian rupa seperti sekarang ini?&lt;br /&gt;Belum ada teori yang menyatakan dengan pasti bagaimana bahasa bermula. Di dunia sekarang ini tidak ada masyarakat yang belum berbahasa sehingga dapat dipelajari bagaimana sebuah bahasa bermula. Suku-suku terasing yang diketahui sudah memiliki sistem bahasa yang kompleks. Tidak ada ilmuwan yang menemukan suatu masyarakat tertentu dalam keadaa tanpa bahasa. Lalu, jika tidak ada pengalaman empiris yang dapat menjadi fakta untuk menerangkan asal mula bahasa, bagaimanakah asal mula bahasa dapat diterangkan?&lt;br /&gt;Seorang filsuf bahasa dari Inggris, James Haris, menjawab. Kemampuan manusia dalam menciptakan makna dan kata merupakan pemberian Tuhan. Jawaban yang sederhana. Dan merupakan kebenaran mutlak bagi yang beriman. Tapi, bagaimanakah cara Tuhan memberikan kemampuan itu kepada manusia, menjadi teka-teki yang sepertinya sulit untuk dijawab. Lalu, jika benar Tuhan menganugrahkan kemampuan itu kepada manusia, kapan anugrah itu diberikan? Apakah pada masa Kala Miosen 15 juta tahun yang lalu ketika keluarga kera besar berevolusi menjadi hominoid? Atau pada masaKala Plestosen Madya 1 juta tahun lalu ketika proto-hominoid pada akhirnya menurunkan empat ras manusia? (Kapakankah kau, hei Adam, memakan buah pengetahuan?)&lt;br /&gt;Dipandang dari segi sejarah, asal mula bahasa berlangsung pada masa pra-sejarah. Mustahil menelusuri apa yang berlangsung di masa itu melalui catatan atau manuskrip yang ditinggalkan oleh masa itu. Apalagi mencari data-data bahasa yang dapat digunakan untuk mengkaji asal mula bahasa. Tulisan-tulisan kuno paling tua yang ditemukan berasal dari kebudayaan-kebudayaan besar kuno seperti Babilonia, Mesir, Cina, India, etc. itu pun paling jauh hanya mencapai 5000 tahun sebelum masehi. Singkatnya, bahasa tercipta pada masa gelap sejarah umat manusia. Merekonstruksi kejadian yang ada di sana berarti menjamah kegelapan di mana eksistensi yang berada di sana tidak terjamah oleh indra dan pengalaman manusia pada masa kini.&lt;br /&gt;Meski demikian, tidak sedikit ilmuwan yang mencoba untuk menjamah kegelapan itu dan memetakannya. Namun karena keterbatasan fakta empiris, para ilmuwan hanya mampu sampai pada tahap hipotesis. Dengan kata lain (jika boleh disebut seperti ini) manusia belum tahu dengan pasti dari mana dia berasal dan bagaimana dia bisa berbahasa.&lt;br /&gt;Ada beberapa teori yang coba menjawab asal mula bahasa. Ada teori onomatopetik yang menyatakan bahwa kata-kata diciptakan dengan meniru bunyi atau gema dari objek. Teori interyeksi menyatakan bahwa bahasa lahir dari ujaran instinktif karena tekanan-tekanan batin, perasaan yang mendalam, dank arena rasa sakit yang mendalam. Masih ada teori nativistik, teori Yo-He-Ho, teori isyarat, teori permainan vocal, teori isyarat oral, teori kontrol sosial, teori kontak, dan teori Hockett-Ascher. Dari semua teori tersebut, teori Hockett-Ascher lebih menyeluruh dan memperhitungkan evolusi yang dialami umat manusia. &lt;br /&gt;Dalam teori yang dikemukakan oleh Hockett dan Ascher disebutkan bahwa sebelum sampai pada perkembangannya bahasa mengalami sebuah proses yang disebut pra-bahasa. Kera-kera besar yang mendiami bumi berkomunikasi dengan isyarat yang disebut sistem call seperti yang nampak pada system call pada gibbon modern. Sistem komunikasi ini memiliki enam bentuk call: (1) makanan, (2) bahaya, (3) persahabatan, (4) untuk menunjukkan keberadaan, (5) perhatian seksual, dan (6) perlindungan.&lt;br /&gt;Berbeda dengan bahasa modern, system call ini bersifat tertutup. Sebuah call hanya mungkin digunakan jika objek yang dikenai berada di depan mata. Call makanan misalnya, hanya digunakan jika ditemui adanya makanan. Begitu juga dengan call bahaya dan call-call yang lain. Sebuah call tidak dapat digunakan bersamaan. Pada masa itu belum dimungkinkan membuat ungkapan seperti, “Aku punya makanan, maukah kau bersahabat denganku,” seperti yang dilakukan oleh anak-anak untuk merayu temannya.&lt;br /&gt;Ditinjau dari segi ini, sistem call belum memiliki ciri bahasa modern, yaitu pemindahan (replacement). Ciri pemindahan ini mengandung pengertian bahwa kita dapat berbicara dengan bebas mengenai sesuatu hal yang jauh dari pandangan kita, atau sesuatu yang berada di masa lampau, atau sesuatu yang berada di masa datang, bahkan mengenai sesuatu yang tidak ada. “Tapi kau harus duduk denganku besok di sekolahan,” lanjut anak itu berbicara tentang masa depan dengan makanan yang baru akan diberikan setelah sampai di rumah (kedua anak itu masih berbincang-bincang di sekolah).&lt;br /&gt;Dengan sangat lambat system call yang bersifat tertutup perlahan-lahan mulai terbuka. Berlangsungnya proses ini bersamaan dengan perubahan iklim di muka bumi yang menyebabkan hutan-hutan menyempit dan memunculkan tempat-tempat terbuka.&lt;br /&gt;Makin menyusutnya hutan ini menyebabkan makin ketatnya persaingan memperebutkan ruang hidup (lebensraum) bagi proto-hominoid. Yang lemah dan kalah pada akhirnya harus turun dari hutan dan mengembara di sabana-sabana terbuka.&lt;br /&gt;Di sinilah babak baru kehidupan dimulai. Makhluk yang semula menggunakan tangannya untuk bergelantungan pada cabang-cabang pohon dan menggunakan mulutnya untuk membawa sesuatu kini harus menggunakan kedua kakinya untuk berjalan di padang-padang luas. Perlahan-lahan pula kedua tangannya difungsikan untuk membawa sesuatu. Pada masa ini juga proto-hominoid mengembangkan peralatan sederhana baik dari batu maupun dari tulang sisa hewan buruan mereka. Mereka pun juga mulai mengumpulkan makanan (di sini nampak bahwa proto-hominoid mulai mengenal konsep masa depan). Pada akhirnya, terbentuklah kebudayaan manusia. &lt;br /&gt;Terbentuknya kebudayaan ini didukung oleh perkembangan alat berkomunikasi dari sistem call yang bersifat tertutup menjadi bersifat terbuka dan produktif, yang pada akhirnya membentuk pra-bahasa dan bahasa. Sistem call yang semula hanya memiliki enam bentuk call makin lama makin bertambah. Hal ini dikarenakan situasi dan pengalaman baru yang dihadapi. Pada suatu ketika mereka berada dalam situasi ‘ada makanan tapi ada hewan buas yang berarti ada bahaya’ namun mereka mengalami kesulitan dalam  menyampaikan situasi tersebut ke anggota kelompok yang lain. Untuk memenuhi tuntutan tersebut diciptakanlah sebuah call baru yang memiliki ciri-ciri call makanan dan bahaya. Misalnya ditentukan bahwa ABCD adalah call makanan dan EFGH adalah call bahaya. Mereka menggabungkan sebagian ciri yang ada pada kedua call tersebut menjadi sebuah call baru seperti ABGH untuk menyebut ada makanan tapi ada bahaya. &lt;br /&gt;Dengan kemampuan penggabungan ini menyebabkan perbendaharaan call yang dimiliki menjadi semakin banyak. Jika disepakati bahwa ABCD adalah makanan dan EFGH adalah bahaya maka dapat diturunkan bentuk seperti ABGH= ada makanan tapi ada bahaya, ABEF= ada makanan dan tidak ada bahaya, CDEF= tidak ada makanan tapi yang ada hanya bahaya, dan CDGH= tidak ada makanan dan tidak ada bahaya. Lalu peralatan-peralatan yang digunakan untuk berburu mulai diberi call (penanda). Begitu juga dengan buah-buah, binatang, maupun objek-objek yang ditemui selama perjalanan. Dan secara perlahan-lahan objek-objek abstrak seperti hari esok, cara berburu binatang, dan lain sebagainya diberi call. &lt;br /&gt;Cara seperti inilah yang menghasilkan banyak perbendaharaan call pada proto-hominoid yang pada akhirnya menjadi sebuah bahasa yang digunakan oleh homo sapiens dan empat ras manusia di bumi. Namun perlu dicatat bahwa terus bertambahnya jumlah perbendaharaan call yang dimiliki sebuah bahasa dapat menyebabkan keruntuhan bahasa itu sendiri. Untuk mengatasi persoalan itu para pengguna bahasa menciptakan morfem untuk menekan laju pertambahancall.&lt;br /&gt;Contoh pada kata ‘kerja’, ‘mengerjakan’, ‘dikerjakan’, ‘pekerjaan’, ‘pengerjaan’, dan ‘kerjakan’ jika bentuk-bentuk yang berasal dari satu akar kata ini diberi penanda yang berbeda tentu jumlah perbendaharaan kata yang dimiliki oleh sebuah bahasa terlampau besar sehingga dapat meruntuhkan bahasa itu sendiri. &lt;br /&gt;Pada catatan berikutnya akan coba diuraikan secara sederhana bagaimana penyebaran bahasa bangsa-bangsa yang semula bersatu lalu perlahan-lahan menyebar ke berbagai penjuru dunia. Metode yang digunakan dalam dalam menganalisa penyebaran bahasa adalah metode leksikostatistik. &lt;br /&gt;Surabaya, 15 Desember 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/607018575664909321-1381788637093545261?l=candrakris.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://candrakris.blogspot.com/feeds/1381788637093545261/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=607018575664909321&amp;postID=1381788637093545261' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/607018575664909321/posts/default/1381788637093545261'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/607018575664909321/posts/default/1381788637093545261'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://candrakris.blogspot.com/2010/12/asal-mula-bahasa.html' title='&lt;blink&gt;Asal Mula Bahasa&lt;/blink&gt;'/><author><name>candrakris</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01491464186327619483</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://4.bp.blogspot.com/-h3YLepbKi5g/TWJYwq6xOAI/AAAAAAAAAIc/pAqdjIx0j5A/s220/BMK%2B3%2B218.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-607018575664909321.post-6462719091770625813</id><published>2010-12-13T10:55:00.000-08:00</published><updated>2010-12-13T10:59:17.260-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='berita'/><title type='text'>Hari Raya Kurban, Berkah bagi Masyarakat Pinggiran</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_uHy3f-CHKd0/TQZs3ZMPMFI/AAAAAAAAAH0/QRBaBC1lVIY/s1600/100_0050.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_uHy3f-CHKd0/TQZs3ZMPMFI/AAAAAAAAAH0/QRBaBC1lVIY/s200/100_0050.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5550243289691533394" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Hari raya kurban membawa berkah tersendiri bagi masyarakat pinggiran Surabaya. Sujoto misalnya. Pria 54 tahun yang tinggal di wilayah Surabaya Timur ini mendapat berkah tersendiri dengan datangnya hari raya kurban.&lt;br /&gt;Pria yang sehari-hari bekerja sebagai tenaga kebersihan di sebuah pertokoan ini tidak ingin ketinggalan dalam mengais rejeki di hari raya kurban. Sebanyak 17 ekor dari 26 ekor kambing yang dipelihara dengan sistem maron bati di rumahnya di kawasan Medokan Semampir Timur Dam diboyong ke lokasi penjualan di kawasan jalan Kedung Baruk dekat dengan TPS.&lt;br /&gt;Berbekal beberapa helai pakaian, sebuah sarung, lampu senter, dan terpal plastik, dia tinggal di sana untuk menunggui kambing-kambingnya. Mulai tanggal 10 s/d 17 November, dia tinggal di lokasi penjualan yang disewa dari seorang warga Kedung Baruk. Namun dia tidak berjualan sendirian di sana melainkan bersama rekannya Mudjiono (56 tahun) warga Keputih Tegal Timur Baru. Pria yang sehari-hari bekerja sebagai tukang bangunan ini membawa serta 7 ekor kambing. “Sebenarnya 8 ekor yang mau dijual, tapi yang satu terkena penyakit gudik jadi tidak dibawa,” kata Mudjiono. &lt;br /&gt;Meski pengunjung yang datang terbilang tidak ramai, namun satu per satu kambing yang mereka jual laku. Harga kambing yang mereka jual berkisar antara 800 ribu sampai 1,9 juta ribu rupiah. Sampai bakda hari raya (17/11) kambing yang mereka jual hanya tersisa 3 ekor. Sedangkan keuntungan yang didapat berkisar antara 100 ribu sampai 1 juta per ekor. &lt;br /&gt;“Lebih enak dijual sendiri, untungnya bisa lumayan,” jawab Sujoto ketika ditanya kenapa tidak dijual ke tengkulak. Sujoto bercerita, sebelumnya sudah ada tengkulak yang bersedia membeli kambingnya. Namun harganya terlalu rendah, hanya 925 ribu per ekor baik besar mau pun kecil. “Dengan berjualan sendiri seperti ini kami jadi tahu harga pasaran,” tambah Sujoto. Lebih jauh, dia berkeinginan untuk berjualan lagi pada hari raya kurban tahun depan.&lt;br /&gt;Total keuntungan yang didapat Sujoto selama tujuh hari sebesar 3,4 juta. Sedangkan keuntungan yang didapat Mudjiono sebesar 1 juta. Sebagian dari keuntungan yang didapat rencananya akan mereka gunakan untuk membeli kambing lagi. “Tepat hari raya kurban tahun depan, kambing yang dibeli nanti sudah cukup besar untuk dijual,” imbuh Sujoto. &lt;br /&gt;Berkah hari raya kurban tidak hanya dinikmati oleh penjual hewan kurban saja. Cak Kholiq misalnya. Pria yang sehari-hari bekerja sebagai penarik sampah di wilayah Kedung Baruk dan tinggal di lapak tak jauh dari TPS Kedung Baruk ini turut kebagian rejeki. Dari pembelian kambing milik Sujoto dan Mudjiono, Cak Kholiq mendapat order mengirim kambing-kambing yang terjual. Dalam sekali pengiriman dia bisa mendapat upah antara 10-35 ribu. Tergantung dari jauh-dekatnya kambing yang diantar. &lt;br /&gt;Nampaknya berkah hari raya kurban yang mengalir ke lapak-lapak dan kampung-kampung di pinggiran Surabaya tidak hanya selalu berupa daging. Hari raya kurban rupanya juga bisa menjadi media bagi masyarakat pinggiran untuk mencari rejeki.&lt;br /&gt;Surabaya, 17 November 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/607018575664909321-6462719091770625813?l=candrakris.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://candrakris.blogspot.com/feeds/6462719091770625813/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=607018575664909321&amp;postID=6462719091770625813' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/607018575664909321/posts/default/6462719091770625813'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/607018575664909321/posts/default/6462719091770625813'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://candrakris.blogspot.com/2010/12/hari-raya-kurban-berkah-bagi-masyarakat.html' title='&lt;blink&gt;Hari Raya Kurban, Berkah bagi Masyarakat Pinggiran&lt;/blink&gt;'/><author><name>candrakris</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01491464186327619483</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://4.bp.blogspot.com/-h3YLepbKi5g/TWJYwq6xOAI/AAAAAAAAAIc/pAqdjIx0j5A/s220/BMK%2B3%2B218.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_uHy3f-CHKd0/TQZs3ZMPMFI/AAAAAAAAAH0/QRBaBC1lVIY/s72-c/100_0050.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-607018575664909321.post-6385536186230582517</id><published>2010-12-13T10:52:00.000-08:00</published><updated>2010-12-13T10:53:23.907-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='berita'/><title type='text'>HUJAN SELAMAM SUNTUK</title><content type='html'>Kursi, meja, kasur, pakaian, serta berbagai perabot rumah digelar di depan rumah. Sampah berserakan di jalanan. anak-anak nampak bergembira karena sekolah mereka mendadak libur. Pemandangan seperti ini dapat disaksikan di kawasan Simo pada jumat pagi 03/12. &lt;br /&gt;Hujan deras disertai angin yang turun hampir sepanjang malam menyebabkan banjir setinggi 1 meter di kawasan ini. Akibatnya aktivitas warga yang terhenti pada pagi harinya. Banyak warga yang terpaksa tidak bekerja dan kembali sambil menuntun motornya. Sebuah sekolah Taman Kanak-kanak memasang papan pengumuman bertuliskan “hari ini sekolah libur karena banjir.” Di halaman sekolah bangku-bangku dijejer, kemudian buku-buku pelajaran dikeringkan. Beberapa orang tampak sibuk mengepel lantai kelas.&lt;br /&gt;Hujan deras semalam juga melumpuhkan kegiatan di pasar simo. Banyak pedagang yang tidak berjualan. Manhuri, salah seroang pedagang di pasar simo, terpaksa memasukkan barang-barang dagangannya ke dalam rumah lagi. Tempat berjualannya yangberada di pinggir jalan tidak memungkinkannya untuk berjualan ketika hujan deras turun.&lt;br /&gt;Sementara itu warga yang rumahnya kebanjiran terpaksa tidak tidur sepanjang malam. Bayu Kurniawan, salah seorang warga yang tinggal di kawasan Simo Hilir, menceritakan bahwa sepanjang malam dia hanya bisa melihat air masuk membanjiri rumahnya. Selain menunggu hujan reda dan memindahkan barang-barangnya ke atas lemari dia tidak dapat berbuat banyak. Baru setelah hujan reda dan genangan air di luar rumah surut, dia mulai menguras air yang menggenang di dalam rumahnya.&lt;br /&gt;“Daerah ini sudah jadi langganan banjir,” katanya. “Untungnya tanggul sungai dan jembatan sudah ditinggikan, kalau tidak bisa lebih parah,” imbuh Bayu. Seringnya banjir di kawasan ini disebabkan kawasan ini merupakan daerah aliran air. Air dari wilayah Kupang Jaya mengalir ke utara melewati kawasan Simo Hilir.&lt;br /&gt;Di jalan raya Simo Pomahan air menggenang setinggi 30 cm. akibatnya banyak pengendra mengalihkan rutenya lewat jalan simo gunung barat tol. Begitu juga dengan angkutan kota yang melintas di jalan itu. Beberapa sopir lyn I dan BP nampak mengalihkan rutenya untuk menghindari banjir. Sampai pukul 1 siang jalan raya Simo Pomahan masih tergenang banjir.&lt;br /&gt;Surabaya, 03 Desember 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/607018575664909321-6385536186230582517?l=candrakris.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://candrakris.blogspot.com/feeds/6385536186230582517/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=607018575664909321&amp;postID=6385536186230582517' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/607018575664909321/posts/default/6385536186230582517'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/607018575664909321/posts/default/6385536186230582517'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://candrakris.blogspot.com/2010/12/hujan-selamam-suntuk.html' title='&lt;blink&gt;HUJAN SELAMAM SUNTUK&lt;/blink&gt;'/><author><name>candrakris</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01491464186327619483</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://4.bp.blogspot.com/-h3YLepbKi5g/TWJYwq6xOAI/AAAAAAAAAIc/pAqdjIx0j5A/s220/BMK%2B3%2B218.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-607018575664909321.post-7467212386595947077</id><published>2010-12-13T10:36:00.000-08:00</published><updated>2010-12-13T10:41:49.627-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>Cerita Seorang Kawan</title><content type='html'>Hari ini sebuah harian di kotaku memberitakan tindak kriminal pencurian. Biasanya aku tidak tertarik pada berita-berita yang disajikan harian itu. Mungkin ketidaktertarikanku didasari pada anggapan bahwa harian lain lebih berkelas untuk dibaca; anggapan yang keliru memang. Tapi begitulah yang terjadi. Misalkan saja harian itu dijajarkan dengan harian lain, tentu aku akan memilih harian lain, kecuali jika memang tidak ada lagi yang bisa dibaca.&lt;br /&gt; Tapi hari ini aku tertarik pada harian itu. Bahkan semalam aku sudah menunggu untuk membaca berita yang mungkin ada di sana. Sebab yang diberitakan di harian itu adalah kawanku, kawan dekatku. Meski sudah menunggu semalaman, aku tidak dapat menyembunyikan keterkejutanku atas berita ditangkapnya dia. “Akhirnya,” pikirku.&lt;br /&gt; Sudah menjadi strategi pemasaran yang khas bagi penjual koran keliling untuk mendatangi kampung orang-orang yang diberitakan harian tersebut tinggal. Dan ketika penjual koran keliling itu sampai di depan rumah aku membelinya. Aku ingin mengetahui bagaimana dia diberitakan. Sebab aku sudah mengenal dia jauh sebelum timbul niatan untuk mencuri, bagaimana proses munculnya niatan itu, bagaimana keadaannya sesudah pencurian itu, sampai dia ditangkap dua hari lalu.&lt;br /&gt; Sebagai kawan baik aku sudah berusaha mengingatkannya. Dipandang dari sudut manapun, perbuatan itu salah. Tapi dia bersikeras ingin melakukannya. “Ada yang lebih buruk dibandingkan mencuri,” elaknya. Dan dua hari setelah berbincang-bincang soal ingat-mengingatkan ini dia menemuiku dan mengatakan, dengan nada yang berharap supaya aku membenarkan perbuatannya, bahwa dia baru saja mencuri–nada harapan itulah yang terus bertalu-talu dalam telingaku.&lt;br /&gt; “Aneh,” pikirku ketika itu. Seharusnya dia pergi sejauh mungkin dan bersembunyi di suatu tempat. Dia mengatakan bahwa si pemilik rumah, bekas majikannya, memergokinya. Tapi dia justru datang padaku dan mengajakku minum kopi di warung. &lt;br /&gt; Mungkin pada saat itu bekas majikannya sedang melapor ke polisi. Mungkin, tepat ketika kami berdua duduk di warung kopi, polisi sudah mengirim orang untuk mencarinya. Kami tidak banyak berbicara ketika itu, melewatkan waktu dengan berdiam-diam, was-was; aku dengan kekhawatiranku sendiri dan dia dengan pikiran-pikirannya sendiri di sana.&lt;br /&gt; Terus terang aku khawatir turut terciduk karena diduga sebagai komplotannya. Sekiranya dia ditangkap bersama aku, tidak akan ada satu pun yang dapat menyatakan bahwa aku tidak terlibat dengannya. Pasti ada pasal-pasal untuk menjeratku. Karena itu dudukku tidak tenang, dan dia membaca kekhawatiranku itu. &lt;br /&gt; Aku merasa bersalah dalam hati. Seharusnya aku percaya bahwa dia tidak akan melibatkan aku sekiranya ditangkap saat itu. Tapi bisakah orang lain, orang-orang yang akan menangkap kami, percaya bahwa aku memang tidak terlibat; itulah persoalannya. Tapi meski mengetahui hal itu dia tidak juga pergi dariku, seolah-olah ingin mengatakan sesuatu padaku.&lt;br /&gt; “Kasihan dia, umurnya masih begitu muda!” pikirku ketika menatap sosoknya di koran. Dia begitu lesu, lemah, lusuh, dan kalah. Esok atau lusa aku harus mengunjunginya. Sebab dia kawanku, dan dia menganggapku sebagai kawan baiknya. Mungkin di sana dia ingin bercakap-cakap dengan orang yang dapat bersikap ramah padanya sesudah pencurian itu, mungkin dia ingin berbicara dengan orang yang sudah begitu akrab dengannya. Lagipula siapa tahu dia membutuhkan sesuatu di sana, sesuatu yang tidak dapat dia minta pada orang lain kecuali aku.&lt;br /&gt; “Kasihan dia,” pikirku lagi. Aku sudah meyakinkannya bahwa pencurian itu tidak perlu, hanya akan mengotori tangan sendiri, dan menjelaskan bahwa memang begitulah keadaan yang biasa terjadi antara majikan dan orang upahan. Tapi dia tidak dapat menerima argumen yang aku berikan begitu saja. Aku sendiri sadar tidak pantas bagiku menyederhanakan persoalan itu untuknya, dan persoalan itu memang tidak sesederhana itu, kecuali untuk kebaikannya sendiri. Sebab apa yang berlangsung di dalam dirinya hanya terjadi di sana dan bukan di tempat lain; hanya dia yang tahu seluruh persoalan itu lengkap dengan akibat-akibatnya. Sebab dialah subjek pengalam dari persoalan itu, dan hanya dia sendirilah yang bertanggungjawab atas perbuatannya, bukan orang lain.&lt;br /&gt; Setelah diberhentikan dari pekerjaannya dia mengatakan banyak hal padaku, tentang semua hal yang pernah dikatakannya padaku. Dia menceritakan lagi tentang mesin penggilingan yang dia masuki kerikil, tentang bagaimana dia menyala-matikan mesin, tentang hasil-hasil gilingan yang dia ludah, tentang bahan-bahan gilingan yang dia kencingi, tentang semua hal yang menurutnya tepat untuk dilakukan. Dan dari semua yang dia katakan, yang paling mudah diingat adalah, “Orang-orang seperti itu tidak dapat dibiarkan!” Maka bibit-bibit kenekatan tumbuh dengan cepat.&lt;br /&gt; Yang dia maksud dengan 'orang-orang seperti itu' adalah bekas majikannya. Sebelumnya sering sekali dia mengeluh tentang pekerjaannya. Dia merasa dicurangi oleh majikannya. Ketika sedang jengkel dia selalu mengajak aku minum kopi di warung dan meluapkan kejengkelannya. Dia merasa majikannya mempermainkan jumlah jam kerjanya yang tidak jelas tanpa upah lembur; ini yang paling sering aku dengar. Kemudia upah yang seharusnya dia terima diundur beberapa hari. Belum lagi omongan-omongan tak sedap yang harus dia terima; ini juga yang tak kalah sering aku dengar.&lt;br /&gt; Jika sudah seperti itu, aku berusaha menenangkannya dengan mengatakan bahwa memang begitulah keadaannya jika kita bekerja mengikuti majikan. Tapi dalam keadaan seperti itu, dia sudah tidak dapat ditenangkan lagi. Yang bisa aku lakukan hanyalah diam dan mendengar keluhan-keluhannya.&lt;br /&gt; Sebenarnya keluhan-keluhan itu sudah begitu sering aku dengar sampai kadang-kadang aku tidak tahan lagi. Kalau sudah begitu, peranku bukan lagi pasif sebagai pendengar, tapi sebagai lawan bicara aktif yang tanpa sadar membuatnya makin berapi-api menelanjangi kecurangan majikannya–aku khawatir, jangan-jangan aku juga turut andil dalam menjadikannya sebagai seorang pencuri!&lt;br /&gt; Pada dasarnya dia sadar bahwa dia berhutang budi pada majikannya. Dengan memberi dia pekerjaan, sang majikan telah menyelamatkan kehidupan eknominya. Meski tidak cukup tapi keadaannya lebih baik dibandingkan dia menganggur. Tapi justru hutang budi inilah yang pada gilirannya nanti menyakitinya dengan dalam. Sebab itu tidak memberi hak pada sang majikan untuk berbuat 'seenak udelnya' (kata-kata ini yang dia gunakan) pada orang lain. Sebab di sana dia diupahi karena pekerjaannya, sebab tenaga yang dia miliki dia kerahkan utuk pekerjaannya, sebab waktunya dia gunakan untuk mengabdi pada majikannya, bukan karena duduk diam berpangku tangan dia digaji. Seharusnya sang majikan memperlakukannya sebagai aset penting yang harus dijaga dan dipelihara, bukan seperti kain gombal yang setelah kotor dengan seenaknya saja dilontari kata-kata pedas.&lt;br /&gt; Dia juga menganggap bahwa ternyata mesin-mesin itu lebih berharga dari dirinya. Jika mesin-mesin itu rusak atau rewel, dia harus mendengarkan omelan majikannya yang lalu memerintahkan supaya mesin itu segera diperbaiki; tanpa perintah dan omelan itu pun dia sudah akan memperbaikinya karena itu adalah kewajibannya sebagai pekerja, dan oleh karena itu hak-haknya sebagai manusia untuk mendapat perlakuan sopan harus didapatkan juga. Tapi jika dia yang tidak masuk kerja karena sakit atau terlambat datang karena sebab-sebab tak terduga, sang majikan mengomelinya tanpa memperhatikan jumlah jam kerja lebih yang tidak pernah dihitung. Mesin boleh rewel atau sakit dan dia akan memperbaikinya, tapi jika dia yang rewel atau sakit, sang majikan malah mengomelinya. Dia tidak habis pikir, “bukankah upah harian yang dipotong seharusnya cukup untuk membuat majikan tidak ngomel?!” Dia sendiri pun tidak ingin terlambat dan tidak ingin bolos karena hal itu akan merugikannya. Tapi pasti ada dalam satu hari saat-saat di mana dia tidak dapat pergi bekerja atau harus datang terlambat. Dia bukan mesin yang ketika sakit atau lelah hanya perlu diobati dan diistirahatkan saja. Dia juga bangunan mental di mana moral bekerjanya sangat mungkin mengalami penurunan; dan pada saat seperti inilah dia merasa tidak berharga bagi majikannya.&lt;br /&gt; Sudah hampir dua tahun dia bekerja pada majikannya. Selama itu dia berusaha menjaga supaya tetap produktif ketika moral bekerjanya mengalami penurunan. Dia tidak ingin dicap tidak tahu balas budi dengan bekerja bermalas-malasan. Tapi mendekati akhir masa kerjanya, dia tidak lagi mempertahankan keseimbangan dirinya dan membiarkan dirinya dikuasai oleh suasana hatinya. Dia menjadi mudah sekali curiga dan tersinggung pada majikannya.&lt;br /&gt; Dia mulai membandingkan antara tempat kerjanya dengan tempat-tempat kerja lain. Dia mengecam tidak adanya kontrak kerja antara majikan dan dirinya. Tanpa kontrak kerja itu dia merasa tidak ada kejelasan statusnya sebagai pekerja, juga tentang jumlah jam kerja, upah lembur yang mestinya didapat, batas-batas apa yang menjadi kewajibannya dan yang bukan, sangsi yang harus dia terima jika melanggar aturan tertentu, ataupun penghargaan karena telah bekerja lebih baik dari sebelumnya. Tanpa kontrak kerja dia melihat dirinya begitu lemah dan mudah ditekan. Pada batas-batas tertentu, dia melihat dirinya bukan lagi sebagai pekerja melainkan sebagai budak.&lt;br /&gt; Pada tahap ini dia bukan lagi melihat majikannya sebagai majikan yang berlaku sewenang-wenang padanya, tapi juga sebagai kekuatan jahat yang mengeksploitasi dan menindasnya. Dia tidak dapat menerima hal ini. Sebab antara dia dan sang majikan memiliki hubungan saling ketergantungan. Dia membutuhkan gaji dan pekerjaan dari majikannya, dan majikannya membutuhkan dirinya untuk melakukan proses produksi dan mengawasi alat-alat produksi. Tanpa dia proses produksi tidak akan berjalan dan mesin-mesin itu tidak akan terpelihara. Tapi justru di sinilah dia merasa dirinya benar-benar lemah. Sebab dia, pribadinya sebagai pekerja, dapat digantikan oleh orang lain. Artinya, dia dapat disingkirkan sewktu-waktu sekiranya keberadaannya dirasa tidak lagi menguntungkan atau mengganggu. Melihat kesimpulan seperti itu dia merasa seluruh tenaga dan dan waktu yang dia habiskan tidak ada artinya. &lt;br /&gt; Lalu mulailah dia memasukkan kerikil ke dalam mesin penggilingan supaya mesin itu cepat rusak. Atau memati-nyalakan mesin dengan tiba-tiba supaya biaya listrik naik. Atau meludahi hasil gilingan dan mengencingi bahan-bahan yang hendak digiling supaya terpuaskan sakit hatinya. Dengan berbuat begitu dia ingin menyatakan pada majikannya bahwa dia adalah aset yang paling berharga, yang lebih dari sekedar mesin-mesin itu. Berjalan atau tidaknya proses produksi, tinggi-rendahnya keuntungan yang didapat, bermula dari dia. Dialah yang sepanjang hari berada bersama alat-alat produksi dan bahan baku produksi. Dialah yang mengawasi seluruh tempat produksi ini sepanjang waktu; pemasaran boleh saja menjadi ujung tombak dari seluruh proses produksi, tapi dialah batu asah yang tak nampak di hadapan musuh. Dia berpikir, “jika majikan memiliki kekuatan untuk menindas, mengapa aku tidak!”&lt;br /&gt; Maka perang dingin pun terjadi. Dia tidak lagi membantah omelan majikannya tapi berpikir, “bagaimana jika bahan-bahan yang hendak digiling dicampur kotoran kucing.” Dan tinggal menunggu waktu sebelum pikiran seperti itu diwujudkan. Esok, atau lusa, atau entah kapan, pasti pikiran itu akan dinyatakan dengan tindakan, jika sakit hatinya sudah tak tertahan lagi. Tidak ada yang tidak mungkin baginya sekarang. Dia tinggal menunggu alasan yang tepat untuk melakukannya. &lt;br /&gt; Sebenarnya dia tidak ingin melakukan semua itu. Tapi suatu kesadaran tumbuh dalam dirinya, kesadaran bahwa pada dasarnya dia juga berkuasa atas majikannya. Penguasaannya pada alat-alat produksi dan proses produksi merupakan kekuatan, kekuatan yang dapat dia gunakan untuk melawan penindasan yang dilakukan sang majikan. Dia tidak akan melepas kekuatan itu begitu saja.&lt;br /&gt; Lama-lama majikannya menjadi curiga. Sebab dia terlihat begitu angkuh dan melawan tiap kali diomeli. Sang majikan menduga ada sesuatu yang tidak beres, sesuatu yang mungkin sangat merugikan. Mempekerjakan orang baru merupakan salah satu pilihan. Rotasi dapat menjadi alasan yang bagus.&lt;br /&gt; Dari situ sang majikan mempekerjakan orang baru dengan tugas tambahan khusus: melaporkan keadaan di lapangan. Melalui pekerja baru ini sang majikan berharap dapat mengetahui ketidakberesan yang dicurigai ada di lapangan.&lt;br /&gt; Bodohnya, dia terlambat menyadari hal ini. Dia begitu bangga dengan kekuatan yang ada padanya. Dia merasa bahwa seluruh buruh berada bersamanya, dan dia merasa berkewajiban menyampaikan pengertian tentang kekuatan yang dia dan semua buruh miliki pada orang lain, pada pekerja baru di tempat kerjanya.&lt;br /&gt; Tidak dibutuhkan waktu lama bagi sang majikan untuk mengetahui ketidakberesan yang terjadi. Dari informasi yang didapat sang majikan menyimpulkan perbuatannya sebagai: sabotase.&lt;br /&gt; Suatu hari dia dipanggil oleh majikannya. Melihat cara bicara majikannya yang begitu sopan dan bijak dia tidak menyadari bahwa majikannya menyembunyikan maksud memberhentikannya. Dia hanya melihat bahwa sikap lain yang ditunjukkan majikannya itu merupakan buah dari perlawanan yang dia lakukan. Dan dia menjadi begitu percaya diri. Dia berpikir, “Jika aku saja dapat melihat semua itu, tentu majikanku juga.” Berangkat dari situ, tanpa diminta, dia mulai menjelaskan apa yang sudah dia lakukan dengan kata-kata 'yang mungkin dia lakukan' jika sang majikan tidak mau melihat keberadaannya lebih manusiawi lagi. Dia begitu jauh dari daratan sehingga tidak menyadari bahwa sudut pandang seorang majikan dan seorang buruh berbeda.&lt;br /&gt; Jelas sudah alasan bagi sang majikan untuk memberhentikannya. Begitulah dia dilereni, tanpa pesangon tanpa apa-apa. Tenaga, pikiran, dan waktu yang dia habiskan di tempat itu selama hampir dua tahun seolah-olah tidak ada artinya. Alasannya: kinerjanya mulai menurun. Dan dia tidak memprotes alasannya dilereni karena sadar bahwa dia sudah mengungkapkan kebenaran yang menyakitkan majikannya, kebenaran bahwa dia juga berkuasa atas majikannya.&lt;br /&gt; Tapi justru ketiadaan alasan inilah yang membuatnya nekat mencuri, dan mendapat pembenaran di dalamnya. Dia sudah bersedia berdamai dengan menyerahkan senjata yang dimilikinya dengan harapan bahwa majikannya akan mulai memperhatikan dirinya lebih manusiawi lagi. Tapi kesediaan damai itu malah direspon dengan melereni dirinya. Tidak dapat tidak dia harus melakukan sesuatu, sesuatu yang membuat majikannya sadar bahwa dia sudah mengenal sistem di tempat kerjanya.&lt;br /&gt; “Kasihan dia,” pikirku. Judul berita tentang dia cukup menarik: TAK DAPAT PESANGON, RUMAH MAJIKAN DIBOBOL. Disebutkan alasannya mencuri: “sakit hati dan –lagi-lagi– kebutuhan ekonomi. Mungkin pada wartawan dan orang lain sang majikan akan menyebutnya sebagai orang yang tidak tahu balas budi. Tapi tidak akan ada yang menyebut tenaga dan waktu yang dia habiskan untuk majikannya, juga jam-jam lembur yang tidak dibayar, dan omelan-omelan yang memanaskan telinga; kecuali dalam igauan malam sang majikan, mungkin.&lt;br /&gt; Sekarang dia akan dicap sebagai seorang pencuri, seorang kriminil; dan cap itu akan melekat selamanya. Alasan sakit hati dan ekonomi yang tertulis hanya akan membuat orang-orang yang membaca beritanya menyatakan bahwa sebenci dan semiskin apapun seseorang, hal itu tidak dapat dijadikan sebagai alasan untuk mengambil milik orang lain. Tidak ada yang melihat bahwa dengan semua tindakan yang sudah dia lakukan itu dia ingin mengatakan sesuatu.&lt;br /&gt; “Ah, benar-benar kasihan dia!” pikirku. Esok atau lusa aku harus mengunjunginya. Dia kawan dekatku dan dia banyak bercerita padaku. Mungkin dia butuh seseorang yang mau mendengar kata-kata yang diucapkannya, meski aku merasa bukan orang yang tepat untuk dapat mengerti apa yang hendak dia sampaikan itu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/607018575664909321-7467212386595947077?l=candrakris.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://candrakris.blogspot.com/feeds/7467212386595947077/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=607018575664909321&amp;postID=7467212386595947077' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/607018575664909321/posts/default/7467212386595947077'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/607018575664909321/posts/default/7467212386595947077'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://candrakris.blogspot.com/2010/12/cerita-seorang-kawan.html' title='Cerita Seorang Kawan'/><author><name>candrakris</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01491464186327619483</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://4.bp.blogspot.com/-h3YLepbKi5g/TWJYwq6xOAI/AAAAAAAAAIc/pAqdjIx0j5A/s220/BMK%2B3%2B218.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-607018575664909321.post-8845192532956181640</id><published>2010-11-20T08:57:00.000-08:00</published><updated>2010-11-20T08:58:24.149-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='essai'/><title type='text'>Reality Show Kita</title><content type='html'>Rupanya pemirsa televisi kita tidak dapat lagi dipuaskan hanya dengan drama sinetron. Harus ada tangisan yang benar-benar tangisan, harus ada pertengkaran yang benar-benar pertengkaran, harus ada pihak-pihak jahat untuk dikalahkan, harus ada yang benar-benar jujur dan sabar yang pada akhirnya menang; baru dengan itu pemirsa dapat dipuaskan. Sebab dengan hanya menonton sinetron pemirsa menyadari bahwa adegan-adegan dalam sinetron itu hanyalah rekayasa. Dengan begitu berkuranglah kepuasan yang mungkin didapat dari hanya menonton sinetron.&lt;br /&gt; Maka dibuatlah konsep tentang tayangan di mana tangisan yang ada merupakan tangisan yang sesungguhnya dan penderitaan yang ada merupakan penderitaan yang sebenar-benarnya: reality show. Dengan mengangkat realitas sebenarnya ke dalam layar kaca diharapkan tangisan, pertengkaran, dan segala hal yang ada di dunia nyata dapat ditampilkan dengan sebenar-benarnya, bukan dalam fiksi seperti dalam drama sinetron. Terpuaskankah permirsa dengan hiburan-hiburan ini?&lt;br /&gt; Ya, sebab rating dalam tayangan-tayangan reality show cukup tinggi. Pada dasarnya dengan mengangkat realita sesungguhnya ke dalam konsep seperti reality shiw merupakan hal yang baik. Sebab pemirsa dapat membuka diri terhadap kenyataan bahwa hidup tidak semudah seperti tergambar dalam tayangan-tayangan sinetron. Tapi tayangan reality show ini bukan tanpa persoalan, bahkan persoalan yang ada tidak dapat dipandang sebelah mata.&lt;br /&gt; Kemampuan utama yang dimiliki oleh media dengan jangkauan yang cukup luas seperti televisi adalah kemampuannya membentuk opini publik. Ketika menyaksikan suatu fenomena yang ada di hadapannya, tanpa sadar pemirsa dilibatkan dalam fenomena yang disuguhkan tersebut. Mungkin keterlibatan itu berupa tindakan mental seperti munculnya rasa simpati atau mungkin juga keterlibatan itu berupa tindakan verbal seperti menyatakan bahwa si A bersalah dan sebagainya. Lebih jauh, keterlibatan itu dapat menjadi dasar dalam penilaian ketika dalam kehidupan sehari-hari pemirsa menghadapi fenomena yang hampir mirip dengan fenomena yang pernah dilihatnya.&lt;br /&gt; Sepintas uraian di atas menunjukkan kenyataan yang terbalik. Artinya, berdasarkan pengalaman sehari-harilah penilaian pemirsa didasrakan ketika menilai fenomena yang diangkat dalam reality show. Jauh sebelum menyaksikan tayangan semacam realith show pemirsa sudah memiliki kategori-kategori baik dan buruk, salah dan benar, dan sebagainya. Reality show hanyalah ulangan dari fenomena yang terjadi di sekeliling pemirsa dalam kehidupan sehari-hari; namun realitas yang diangkat dalam reality show bukanlah realitas yang sebenarnya melainkan realitas yang berpihak. Dan frekwensi penayangan yang tinggi dan berulang-ulang dapat membentuk kesepakatan tertentu di kalangan pemirsa.&lt;br /&gt; Konsep umum yang selalu ada dalam sebuah hiburan adalah, ada pihak-pihak menderita yang pada akhirnya menang, harus ada pihak-pihak yang diselamatkam, harus ada pihak-pihak yang dikalahkan. Konsep seperti ini menyederhanakan realitas, menjadikan hubungan antar-individu dalam tayangan reality show menjadi hubungan subjek-objek. Subjek inilah yang digambarkan kehidupannya secara lengkap, yang pa akhirnya nanti akan dimenangkan. Dan dimenangkan bukan berarti mendapatkan segala yang diinginkan, tapi juga simpati dari pemirsa.&lt;br /&gt; Dengan mengkategorikan hubungan antar-individu ke dalam subjek-objek maka realitas yang dominan adalah realitas subjek. Realitas subjek digambarkan dengan detil dan dioposisikan dengan realitas objek yang kurang dominan. Objek tidak diberi kesempatan untuk menggambarkan kehidupannya. Hanya segi yang berkaitan dengan subjek saja yang digambarkan, selebihnya objek hanyalah sosok yang gelap, yang tidak diketahui kehidupannya, yang mana pada akhirnya dikalahkan oleh subjek. Sebab keberadaan objek hanya dimungkinkan dalam oposisinya dengan subjek. Sedang subjek dapat tetap ada tanpa kehadiran objek.&lt;br /&gt; Contoh yang paling mudah adalah 'peminta-minta'. Subjek, peminta-minta, diidentifikasi dengan lengkap. Sedangkan objek yang dimintai sama sekali tidak diidentifikasi dan hanya ditampilkan dalam hubungannya dengan subjek. Yang tidak menguntungkan lagi, objek didatangi setelah subjek berlalu dan ditanyai apa alasannya tidak mau membantu subjek yang minta tolong padanya tadi. &lt;br /&gt; Realitas apakah yang ditampilkan di sini? Realitas yang berpihak. Realitas yang memenangkan pihak tertentu dan mengalahkan pihak lain dengan strategi menghilangkan identifikasi pada pihak lain. Jika reality show bertujuan mengangkat realitas sebagaimana adanya, mengapa ada pihak-pihak yang 'dikalahkan'? Mengapa ada pihak-pihak yang tidak diidentifikasi secara utuh? Seorang pedagang bakso yang di rumah istri dan anaknya menahan lapar dipaksa membantu seorang bocah dengan membeli barang yang ditawarkan lebih dari harga biasanya; salahkah jika penjual bakso itu, yang mungkin saja laba yang didapat hari ini tidak cukup untuk menafkahi anak dan istrinya, tidak membantu gadis itu? Tidak! Siapapun tidak dapat disalahkan begitu saja jika tidak mau membantu gadis itu; mungkin justru penjual bakso itulah yang sebenarnya harus ditolong. &lt;br /&gt; Tapi justru penilaian yang menyatakan bahwa penjual bakso itu salah inilah yang sepertinya hendak ditekankan. Penilaian seperti ini sangat mungkin ada di benak pemirsa ketika melihat gadis kecil itu berlalu tanpa mendapat pertolongan. Di sini persoalan yang ada bukan hanya hubungan subjek-objek saja, konsep reward and punishment merupakan bentuk penilaian yang hendak ditekankan pada pemirsa. Sebab ketika pada akhirnya ada objek yang bersedia membantu gadis itu, maka reward akan diberikan pada objek tersebut.&lt;br /&gt; Mungkin pemirsa diarahkan untuk 'menghukum' objek yang tidak mau membantu gadis itu. Mungkin pemirsa diarahkan untuk bersikap sama jika dalam kehidupan sehari-hari ditemui fenomena serupa itu, di mana tiba-tiba muncul seseorang yang meminta bantuannya. Dalam kerangka pemikiran marxisme kesimpulannya bisa sangat berbeda.&lt;br /&gt; Begitu juga dengan tayangan reality show yang lain. Individu dimasuki kehidupan pribadinya dan dijadikan objek yang dioposisikan dengan subjek. Dan subjeklah yang pada akhirnya harus menang. Dalam konsep fiksi, subjek dijadikan sebagai tokoh protagonis di mana simpati pemirsa diarahkan padanya sedangkan objek diposisikan sebagai tokoh antagonis, sebagai tokoh yang di akhir cerita harus menderita 'kekalahan'.&lt;br /&gt; Dalam memilih acara hiburan untuk ditonton pemirsa harus lebih kritis. Kekritisan ini dapat melepaskan pemirsa dari konsensus tertentu yang (sadar atau tidak sadar) hendak dibentuk melalui tayangan-tayangan tertentu. Dengan begitu pemirsa dapat lebih arif dalam menilai fenomena yang disuguhkan padanya.&lt;br /&gt;Surabaya, 22 Juni 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/607018575664909321-8845192532956181640?l=candrakris.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://candrakris.blogspot.com/feeds/8845192532956181640/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=607018575664909321&amp;postID=8845192532956181640' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/607018575664909321/posts/default/8845192532956181640'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/607018575664909321/posts/default/8845192532956181640'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://candrakris.blogspot.com/2010/11/reality-show-kita.html' title='&lt;blink&gt;Reality Show Kita&lt;/blink&gt;'/><author><name>candrakris</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01491464186327619483</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://4.bp.blogspot.com/-h3YLepbKi5g/TWJYwq6xOAI/AAAAAAAAAIc/pAqdjIx0j5A/s220/BMK%2B3%2B218.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-607018575664909321.post-8121124872392061505</id><published>2010-11-20T08:55:00.000-08:00</published><updated>2010-12-13T10:58:52.440-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='essai sastra'/><title type='text'>Catatan dari Bawah Tanah: Proses Kemenjadian Diri</title><content type='html'>Fyodor Dostoyevsky (1821-1881) merupakan seorang sastrawan eksistensial, terutama dalam novelnya Catatan dari Bawah Tanah. Iwan Simatupang dalam sebuah essainya menyebut tokoh dalam novel ini sebagai Manusia Souterrain. Tampaknya Iwan tertarik dengan sisi gelap tokoh aku dalam novel ini. Novelnya yang berjudul Kering diwarnai nuansa eksistensialisme Dostoyevsky.&lt;br /&gt; Bagi pembaca Indonesia tampaknya novel-novel Dostoyevsky kurang populer dibandingkan karya-karya sastrawan Rusia lain seperti Tolstoy atau Chekov. Meski demikian karya-karya Dostoyevsky turut berpengaruh dalam sejarah perkembangan kesusastraan Indonesia, terutama pada novel-novel Iwan Simatupang. Sartre pun mengadopsi pemikiran Dostoyevsky dalam filsafatnya.&lt;br /&gt; Kelebihan novel Catatan dari Bawah Tanah ini terletak pada analisis yang tajam terhadap kesadaran eksistensi manusia. Sebuah profil psikologis lengkap tentang seseorang yang hidup menyendiri di kota St. Petersburg pada suatu masa tertentu (abad 19) dapat ditemukan dalam novel ini. Pada awal sekali tokoh aku dalam novel ini sudah mengungkapkan jati dirinya dengan menulis, “Aku orang sakit..Aku seorang pendendam. Aku orang yang tidak menyenangkan.” Lebih jauh, ke-aku-an yang diungkapkan tokoh tersebut ternyata lebih dari sekedar luapan keputusasaan akibat tekanan dari kehidupan terpisah yang dipilihnya.&lt;br /&gt; Novel pendek yang ditulis dalam bentuk catatan ini cukup menarik; ditulis oleh seorang tokoh berusia 40 tahun di mana di dalamnya berisi pandangan beserta pengalaman-pengalaman pahit di masa lalu, dan pikiran dan perasaan yang mungkin ada bersama pengalaman itu. Secara umum, keseluruhan isi novel ini bergerak menuju satu muara: mengantarkan pembaca pada pembentukan argumen yang dikemukakan tokoh aku di awal catatannya. Pemaparan watak, karakter, pandangan, perilaku, dan cara-cara tokoh berhadapan dengan realitas dimaksudkan untuk sampai pada argumen tersebut.&lt;br /&gt; Secara objektif tokoh aku dalam novel ini tergambar negatif di depan pembacanya. Sebab yang hendak diungkapkan bukanlah sisi positif dirinya melainkan sisi negatif dirinya. Makna eksistensi individu ditemukan dalam hubungannya dengan orang lain, tapi siapa yang mau berkawan dengan seseorang yang penuh dengan prasangka buruk pada orang lain? Tapi justru itulah yang hendak disampaikan oleh Dostoyevsky. Jika Kierkegaard mengatakan tidak memahami kisah Abraham untuk mengungkapkan ironisme pemahamannya, ironisme tokoh Dostoyevsky terletak pada pengungkapan sisi negatif dirinya. Artinya, dalam berhubungan dengan orang lain individu harus diterima lengkap bersama sisi-sisi negatif dalam dirinya. Tanpa menerima sisi negatif itu hubungan antar-individu akan menjadi hambah, penuh kepura-puraan, dan tak bermakna; jelas bukan hubungan seperti ini yang dikehendaki Dostoyevsky.&lt;br /&gt; Hubungan antar tokoh dalam novel ini merupakan usaha untuk mengungkapkan sisi negatif tersebut. Tokoh aku dalam novel ini memliki kecendrungan untuk menelanjangi orang lain. Penelanjangan tersebut dimaksudkan supaya orang lain  juga memahami eksistensi diri yang lemah. Dengan menyadari kelemahan tersebut hubungan yang lebih bermakna baru mungkin tercapai. Individu di hadapan individu lain tidak harus membanggakan kelebihannya; sebab semua kelebihan itu tidak ada artinya ketika hanya ada 'aku' dan 'diriku sendiri'. Membanggakan diri pada diri sendiri dan orang lain hanyalah perbuatan sia-sia, palsu, dan tak bermolah–celakanya, justru inilah yang terjadi di sekeliling tokoh aku. “Hanya keledai dan bagal yang bersifat perwira, itu pun sampai mereka didesak ke dinding,” tulis tokoh aku dalam catatannya.&lt;br /&gt; Tapi rupa-rupanya tokoh-tokoh yang dioposisikan dengan tokoh aku tidak mau(tidak dapat) memahami eksistensi diri yang lemah; mulai dari kerani yang tidak menyadari bahwa dirinya menjijikkan untuk dipandang, letnan berbadan tegap, dan Zherkov. Hanya pada tokoh Lizalah eksistensi diri yang lemah diakui–ada yang hendak disampaikan Dostoyevsky melalui tokoh Liza ini.&lt;br /&gt; Hbungan yang alot antar tokoh dalam novel ini dapat dilihat dari konsep Sartre yang menyatakan bahwa neraka ialah sesama kita. Sebab hubungan antar-subjek berubah menjadi hubungan subjek-objek. Tokoh aku dalam novel ini tidak bersedia menerima dirinya dijadikan sebagai objek oleh individu lain. Dia tidak ingin keberadaannya dijadikan sebagai objek yang mendukung subjek tertentu, dia ingin berperan sebagai subjek juga. Hal ini nampak pada sikapnya yang lebih memilih diam daripada turut dalam pembicaraan antara atasannya dengan orang lain yang membicarakan kewajiban berlebih, usahanya berad bahu dengan letnannya, serangannya pada Zherkov, dan usahanya untuk menaklukan 'Liza yang malang'.&lt;br /&gt; Sayangnya dari semua usaha mensejajarkan diri itu hanya satu yang berhasil, yaitu pada Liza seorang. Dengan letnannya tokoh aku hanya memperoleh kepuasan palsu, pada atasannya dia tidak memiliki kuasa untuk mengubah topik pembicaraan, dan pada Zherkov dia ditinggalkan seorang diri dalam keadaan setengah mabuk. Maka tercptalah neraka dalam hubungan dengan 'dunia luar'. Sebab dunia luar tidak bersedia mengakui esksistensinya sebagai subjek. Dunia luar mengharuskannya mengikuti kesepakatan-bersama yang diciptakan tanpa persetujuannya. Dia tidak sepakat bahwa penampilan seseorang harus seperti ini atau itu, dia tidak sepakat bahwa sudah menjadi nasib bagi seorang bawahan untuk selalu menjilat atasannya, dia tidak sepakat bahwa keberhasilan seseorang dinilai dari pangkat yang didapat, dia tidak sepakat bahwa orang-orang seperti Zherkovlah orang yang patut dipuji dan diikuti. Dalam kekalahannya tokoh aku menulis, “Jadi begini rupanya, akhirnya terjadi juga–hubungan dengan hidup sesungguhnya.”&lt;br /&gt; Kesepakatan-bersama yang diciptakan tanpa persetujuannya inilah yang disebutnya sebagai hukum alam, hukum yang melukainya dengan dalam. Pada dasarnya kesepakatan-bersama itu baik karena mengarahkan orang-orang pada pandangan positif, tapi bukan berarti dia tidak dapat mencibir dan menjulurkan lidahnya pada kesepakatan-bersama itu. Dia merasa dirinya bukan tuts piano yang begitu ditekan mengeluarkan nada tertentu. Artinya, jika suatu kekuatan asing mengharuskannya mengikuti kesepakatan-bersama itu, dia memiliki kebebasan untuk tidak mengarah ke sana. Sebab eksistensi dirinya memang tidak terarah ke sana. Dia melihat orang-orang di sekelilingnya menjalai hidup yang tidak otentik dan merasa nyaman di dalamnya, karena itu dia memilih memisahkan diri.&lt;br /&gt; Secara psikologis dapat dibantah bahwa tokoh aku membenci kesepakatan bersama karena dia tidak berada pada posisi di mana ide-idenya diikuti dijadikan sebagai kesepakatan-bersama. Sekiranya berada pada posisi yang diikuti tentu dia akan mencemooh habis-habisan orang-orang yang menentangnya. Tapi justru di sinilah eksistensialisme dalam novel ini bergerak. Dalam konsep Kierkegaard dikatakan bahwa putus asa adalah kebalikan dari mau menjadi diri sendiri sebagaimana adanya. Tokoh aku berusaha keras menjadikan dirinya sebagai pihak yang diikuti dan dibanggakan orang lain. Tapi tidak dapat tidak dia harus menghadapi kenyataan bahwa dirinya lemah dan terasing. Ide-idenya tidak akan diikuti karena hanya akan mengantarkan orang lain pada sisi gelap masing-masing–tokoh Simonov meninggalkannya setelah berhasil ditaklukkan.&lt;br /&gt; Keputusasaan ini mengantarkan tokoh aku ditepi jurang hidupnya. Tidak ada seorangpun yang dapat menahannya untuk tidak jatuh kecuali dirinya sendiri. Dan pada tahap-tahap tertentu dia tidak lagi takut pada 'kemungkinan' kejatuhan dirinya; sebaliknya, malah menemukan kenikmatan di dalam pesaran kehinaan itu.&lt;br /&gt; Ditinjau dari konsep Kierkegaard, keputusasaan tokoh aku dalam novel ini merupakan keputusasaan yang disadari dan negatif sifatnya. Dia sadar bahwa dia berputusasa, dan ingin mengantarkan orang lain pada keputusasaannya masing-masing, tapi tidak menyadari bahwa orang-orang lain itu pada dasarnya pernah berada dalam putus asa juga. Dia tidak habis pikir, bagaimana orang lain bisa tidak menyadarinya. Karena itu dia menganggap kesadaran yang dimilikinyalah kesadaran yang paling tinggi dan, dengan gaya ironis, menyatakan bahwa seorang lelaki cerdas, sebagai akibat kesadarannya yang tajam, tidak mungkin bisa menjadi apa-apa.&lt;br /&gt; Sikap tokoh aku dalam menghadapi keputusasaannya itu bersifat menentang. Kita andaikan bahwa penulis catatan itu adalah seorang lelaki berusia 40 tahun yang sebagian profilnya sudah kita ketahui; lelaki ini, daripada menerima dengan pasrah keadaan dirinya yang tersakiti, memilih menentang tingkah nasib padanya. Penderitaannya dia terima dengan bersikap melawan. “Setiap saat aku sadar akan unsur yang banyak, banyak sekali, yang bertentangan dengan hal itu,” tulisnya. Lebih jauh lagi dia menulis, “Aku tahu mereka selama hidupku berkumpul dalam diriku dan mencari jalan untuk keluar, tapi aku tidak akan membiarkan mereka keluar, dengan sengaja.”&lt;br /&gt; Dengan ide seperti itulah tokoh aku ingin dipuji dan diikuti. Seperti Kierkegaard dan Sokrates, tokoh aku dalam novel ini menyampaikan pengertian tentang eksistensi manusia dengan gaya yang ironis. Tapi usahanya itu tidak dihargai dan malah berakibat pengucilan padanya, karena itu dia merasa putus asa. Sebab dia tidak dapat menjadi seperti yang diinginkannya sendiri. Pada akhirnya, setelah terdorong sedemikian rupa hingga ke tepi jurang kehidupannya, dia melakukan lompatan eksistensial dengan menuliskan dalam catatannya, “Aku orang sakit...”&lt;br /&gt; Kesimpulannya, novel Catatan dari Bawah Tanah ini merupakan perjalanan tokoh aku dalam menjadi diri sendiri. Kemenjadian ini dilewati melalui proses hubungan dengan individu lain. Namun proses menjadi diri sendiri ini belum usai selama tokoh aku tersebut hidup. Sebab pengalaman tokoh aku belum usai, pengalaman itu tak terbatas dan tak selesai; menulis catatan merupakan salah satu cara melestarikan hubungan dengan diri sendiri. Sartre mengatakan, aku bukan diriku, dan aku akan menjadi diriku. Dalam catatannya tokoh aku menulis, “Aku akan lebih bisa mengkritik diriku sendiri, dan memperbaiki gayaku. Di samping itu, siapa tahu dengan menulis aku dapat memperoleh rasa lega.” dengan membuat catatan tersebut tokoh aku berusaha menuju ke arah 'akan menjadi diri' dengan jalan mengabstraksi pengalaman-pengalamannya yang sudah dilaluinya untuk menapak pengalaman-pengalaman yang akan didapatnya.&lt;br /&gt;Surabaya, 10 Juli 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/607018575664909321-8121124872392061505?l=candrakris.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://candrakris.blogspot.com/feeds/8121124872392061505/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=607018575664909321&amp;postID=8121124872392061505' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/607018575664909321/posts/default/8121124872392061505'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/607018575664909321/posts/default/8121124872392061505'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://candrakris.blogspot.com/2010/11/catatan-dari-bawah-tanah-proses.html' title='&lt;blink&gt;Catatan dari Bawah Tanah: Proses Kemenjadian Diri&lt;/blink&gt;'/><author><name>candrakris</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01491464186327619483</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://4.bp.blogspot.com/-h3YLepbKi5g/TWJYwq6xOAI/AAAAAAAAAIc/pAqdjIx0j5A/s220/BMK%2B3%2B218.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-607018575664909321.post-2831177128993321040</id><published>2010-03-03T10:38:00.000-08:00</published><updated>2010-03-03T11:54:57.246-08:00</updated><title type='text'>no tittle</title><content type='html'>to: perempuan yang dipanggil "sa"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tangismu di seberang telpon sana&lt;br /&gt;menjadi hujan di sini&lt;br /&gt;sudah itu saling diam&lt;br /&gt;......................&lt;br /&gt;....................&lt;br /&gt;................&lt;br /&gt;...................&lt;br /&gt;...............&lt;br /&gt;di akhir: nada panjang telpon ditutup&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/607018575664909321-2831177128993321040?l=candrakris.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://candrakris.blogspot.com/feeds/2831177128993321040/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=607018575664909321&amp;postID=2831177128993321040' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/607018575664909321/posts/default/2831177128993321040'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/607018575664909321/posts/default/2831177128993321040'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://candrakris.blogspot.com/2010/03/no-tittle.html' title='no tittle'/><author><name>candrakris</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01491464186327619483</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://4.bp.blogspot.com/-h3YLepbKi5g/TWJYwq6xOAI/AAAAAAAAAIc/pAqdjIx0j5A/s220/BMK%2B3%2B218.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-607018575664909321.post-7403657528897781052</id><published>2010-02-08T11:06:00.000-08:00</published><updated>2010-02-08T11:25:52.076-08:00</updated><title type='text'>catatan 02 February 2010</title><content type='html'>Mengapa dekat tempat kita duduk sebuah pintu air dibangun? Sungai di sebelah kita berasal dari mata air jauh, di antara lembah-lembah dataran tinggi malang, turun menikung tajam di sekitar Kesamben-Blitar, menikung lagi dengan tajam di Kediri, lalu terus, terus, dan dipecah menjadi dua: kali porong; sejarah panjang dialirkan di sungai ini! Jauh sebelum sampai kemari, sungai ini sudah membagi beban airnya dengan kali porong. Begitu masuk ke kota, beberapa pintu air didirikan; salah satunya berdiri tak jauh dari tempat kita duduk, sa. Apa jadinya tempat kita duduk, dan tempat-tempat lain di sekitar bantarannya, tanpa ada yang dibagi dan tanpa didirikan pintu-pintu air..?!&lt;br /&gt;Kita tidak akan pernah duduk di sini, di antara api lilin yang bergoyang lemah di terpa angin lembab bulan februari, apalagi bercakap-cakap. Begitu juga geletar hasrat ini, naik dari kedalaman hati, lalu melewati hari-hari sepi, tertahan sekian waktu tanpa pertemuan...tapi pada permukaan sungai tidakkah kau lihat airnya bergejolak?&lt;br /&gt;Seperti itu juga geletar hasrat di dalam sini. Terpecah dan tertahan. Bukan hanya karena kesonapan maupun etika, tapi juga untuk menjaga supaya percakapan yang mungkin terjadi di masa depan tetap lestari. Bisa saja aku berdiri dan memegang tanganmu. Atau menarik tanganmu dan merapatkan tubuhmu ketika kita berkendara pulang, atau...apapun yang mungkin dilakukan seorang lelaki pada perempuan yang digilainya (jika seperti ini, tidak ada lagi akal sehat, sa; situasi yang aku harapkan dengan takut-takut)!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/607018575664909321-7403657528897781052?l=candrakris.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://candrakris.blogspot.com/feeds/7403657528897781052/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=607018575664909321&amp;postID=7403657528897781052' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/607018575664909321/posts/default/7403657528897781052'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/607018575664909321/posts/default/7403657528897781052'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://candrakris.blogspot.com/2010/02/catatan-02-february-2010.html' title='catatan 02 February 2010'/><author><name>candrakris</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01491464186327619483</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://4.bp.blogspot.com/-h3YLepbKi5g/TWJYwq6xOAI/AAAAAAAAAIc/pAqdjIx0j5A/s220/BMK%2B3%2B218.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-607018575664909321.post-1120418449284311475</id><published>2009-07-24T10:41:00.000-07:00</published><updated>2009-07-24T10:43:06.937-07:00</updated><title type='text'>Rendezvous</title><content type='html'>Duh..dah lima bulan blog ni nggak update. Rindu banget ngeposting lagi. Tapi kayaknya belum saatnya deh. Mungkin bulan depan, atw setelah hari raya...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/607018575664909321-1120418449284311475?l=candrakris.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://candrakris.blogspot.com/feeds/1120418449284311475/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=607018575664909321&amp;postID=1120418449284311475' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/607018575664909321/posts/default/1120418449284311475'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/607018575664909321/posts/default/1120418449284311475'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://candrakris.blogspot.com/2009/07/rendezvous.html' title='Rendezvous'/><author><name>candrakris</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01491464186327619483</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://4.bp.blogspot.com/-h3YLepbKi5g/TWJYwq6xOAI/AAAAAAAAAIc/pAqdjIx0j5A/s220/BMK%2B3%2B218.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-607018575664909321.post-756962983672400375</id><published>2009-02-15T02:57:00.000-08:00</published><updated>2009-02-15T03:45:24.835-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='psikologi'/><title type='text'>Memahami Dunia Bayi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Bagaimana anak-anak memahami dunia di sekelilingnya? Pertanyaan ini begitu menarik untuk di jawab. Seorang bayi yang baru lahir layaknya kertas putih polos yang belum berisi apa pun. Mereka memandang objek-objek di sekelilingnya dalam keadaan kabur dan asing; belum ada nama untuk benda-benda di sekeliling mereka. Lambat laun, dunia yang asing tersebut menjadi semakin akrab, dan, pada akhirnya, mau tidak mau akan mereka masuki. Untuk itu secara naluriah mereka harus mempersiapkan diri untuk memasuki dunia yang kabur dan asing itu.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Hal pertama kali yang dilihat oleh bayi, dan yang akan ditemuinya sepanjang hidupnya, adalah adanya objek-objek di sekeliling mereka. Sejak pertama kali muncul ke dunia mereka telah mengenal adanya sesuatu yang terpisah dari dirinya, berada di luar dirinya dan bukan menjadi bagian dari dirinya. Bagaimana bayi memahami objek-objek di sekelilingnya?&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sejak awal sekali seorang anak tahu bahwa objek dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu yang bernyawa dan tidak bernyawa. Adanya pembedaan antara benda-benda bernyawa dan tidak bernyawa pertama-tama bukan karena objek-objek tersebut dapat bergerak sendiri atau hanya akan bergerak apabila didorong oleh kekuatan lain; secara naluriah bayi memahami bahwa sebuah objek bernyawa didasari oleh insting dasar mereka sendiri. Akan tetapi pemahaman ini masih bersifat instingtif pada awalnya. Pemahaman yang kabur ini lambat laun akan menjadi semakin jelas seiring dengan makin kompleksnya pengalaman yang dialami oleh bayi. Pada tahap ini, seorang bayi dapat dikatakan telah memiliki kesadaran akan dunia luar, dunia yang lain dari mereka. Sekalipun dunia ini masih kabur gambarannya, di mana mereka melihat banyaknya benang-benang yang masih kusut, seiring dengan berjalannya waktu dan kompleksnya pengalaman, benang-benang tersebut akan terjalin menjadi satu untaian yang mengantarkan seorang bayi menuju pemahaman yang utuh terhadap dunia.&lt;br /&gt;Dari sini dapat dilihat bahwa pengalaman merupakan unsur penting bagi bayi untuk memahami dunia sekelilingnya. Dengan kata lain, perkembangan bayi tidak hanya didasari dari faktor internal saja seperti nutrisi yang cukup, gizi yang lengkap, vitamin yang tinggi saja. Secara fisik mereka memang memerlukan semua itu untuk mengembangkan diri mereka. Akan tetapi mental mereka juga harus berkembang. Mereka juga harus melakukan input untuk diri mereka sendiri supaya mental mereka berkembang. Di sini lingkungan sangat berperan dalam menumbuh-kembangkan mental bayi. Orang tua banyak berperan penting di sini. Hal tersebut dapat dilihat bagaimana orang tua mencoba memberikan berbagai macam mainan pada anak-anaknya. Adanya mainan ini dimaksudkan untuk memberikan pengalaman lain kepada bayi. Pengalaman tersebut dapat berupa pemberian suatu bentuk-bentuk baru pada bayi, seperti memberikan mainan dari balok-balok kayu, atau memberi suatu bentuk-bentuk gerakan yang mungkin dilakukan oleh sebuah objek seperti mainan yang bisa diputar.&lt;br /&gt;Adanya hal-hal baru seperti ini memberikan pada bayi sebuah keterbukaan terhadap dunia. Mereka lambat laun akan menyadari bahwa hal-hal yang belum mereka ketahui mungkin saja terjadi. Sebagai contoh kita kembali pada mainan putar; bayi pada mulanya hanya mengetahui bentuk dari mainan tersebut, akan tetapi, dengan didorong oleh suatu tindakan tertentu ternyata mainan tersebut bisa bergerak sendiri. Perlahan tapi pasti mereka bergerak menuju tahap pemahaman yang lebih tinggi.&lt;br /&gt;Tahap selanjutnya setelah bayi mempelajari objek-objek di sekelilingnya adalah memahami adanya peran-peran sosial di sekelilingnya. Setelah melewati tahap materi kini mereka mencapai tahap fisis di mana hubungan antara suatu objek-objek abstrak ingin dipahami. Pada tahap ini bayi telah mencapai usia sekitar 18 bulan. Penggunaan simbol sangat kentara pada tahap ini. Mereka telah mengerti apa arti dari ekspresi tertawa, menangis, dan sebagainya. Mereka telah memasuki tahap yang semakin kompleks.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;bersambung................&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/607018575664909321-756962983672400375?l=candrakris.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://candrakris.blogspot.com/feeds/756962983672400375/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=607018575664909321&amp;postID=756962983672400375' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/607018575664909321/posts/default/756962983672400375'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/607018575664909321/posts/default/756962983672400375'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://candrakris.blogspot.com/2009/02/memahami-dunia-bayi.html' title='&lt;blink&gt;Memahami Dunia Bayi&lt;/blink&gt;'/><author><name>candrakris</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01491464186327619483</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://4.bp.blogspot.com/-h3YLepbKi5g/TWJYwq6xOAI/AAAAAAAAAIc/pAqdjIx0j5A/s220/BMK%2B3%2B218.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-607018575664909321.post-9127609017338499872</id><published>2009-02-06T15:14:00.000-08:00</published><updated>2009-02-15T02:31:54.014-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='psikologi'/><title type='text'>Letak Intelegensia dalam Organisasi Mental</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;Setiap respon, apakah itu berupa tindakan yang bersifat eksternal ataupun tindakan yang bersifat internal seperti berpikir, mengambil bentuk dari adaptasi atau, yang lebih baik lagi, adaptasi ulang. Tindakan individual dilakukan hanya jika dirasa diperlukan, seperti jika keseimbangan antara lingkungan dan organisme suatu ketika mengalami kekacauan, dan tindakan yang akan diambil tersebut cenderung untuk membentuk lagi keseimbangan antara lingkungan dan organisme, untuk adaptasi ulang organisme (Clarapede). Respon tersebut, dengan demikian merupakan kasus kusus dari interaksi antara dunia eksternal dan subjek, tetapi berbeda dengan interaksi psikologis, yang merupakan materi alami dan melibatkan perubahan internal yang diwujudkan di dalam tubuh, respon  yang dikaji oleh psikologi adalah pencapaian jarak terbesar dari fungsi alamiah dan yang semakin membesar di dalam ruang (persepsi) dan di dalam waktu (memori, dan sebagainya) selain mengikuti bidang yang makin lama makin kompleks (perubahan, sirkulasi, dan sebagainya). Perilaku, dengan demikian disusun dalam terminologi interaksi fungsional, yang membutuhkan esensi dan ketelitian dua aspek yang saling bergantung: aspek afektif dan kognitif.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Telah begitu banyak diskusi tentang hubungan antara afeksi dan kognisi. Sesuai dengan P. Janet, perbedaan harus tergambar di antara "tindakan primer" atau pada hubungan antara subjek dan objek (intelegensia, dan sebagainya) dan "tindakan sekunder" atau reaksi subjek atas tindakannya sendiri, yang mana membentuk emosi dasar yang terdiri dari regulasi atas tindakan primer dan memastikan pelepasan energi yang tersedia di dalam diri organisme. Tapi di samping pengaturan/regulasi seperti ini, yang menentukan energitika atau pengelolaan batin dari perilaku, kita harus, seolah-olah, memasukkan penghitungan yang mengarah pada sebuah akhir atau pada sebuah nilai tertentu, dan seperti ciri-ciri nilai interaksi yang energik dan ekonomis dengan lingkungan eksternal. Menurut Clarapede, kesadaran menunjuk tujuan dari perilaku, sementara itu intelegensia hanya menyediakan sarana (tekniknya). Tapi di sana terdapat kesadaran dari sebuah akhir sebagai suatu tujuan, dan kesinambungan ini mengubah tujuan dari perilaku. Sepanjang kesadaran mengarahkan perilaku dengan menunjukkan nilai dari sebuah tujuan, kita harus membatasi diri kita untuk berkata bahwa hal itu menyediakan energi yang diperlukan untuk sebuah tindakan, sedangkan pengetahuan terletak pada strukturnya.  Hal ini menyebabkan munculnya solusi baru yang diusulkan yang disebut denga Psikologi Gestalt: perilaku melibatkan "semua bidang" yang menyatukan subjek dan objek, dan dinamika dari bidang ini membangun kesadaran (Lewin), sedangkan strukturnya bergantung pada persepsi, fungsi-efektor, dan intelegensia. Kita akan mengadopsi formula yang sama, dengan syarat bahwa kesadaran dan bentuk kognitif tidak tergantung semata-mata pada keberadaan "bidang", tapi juga pada seluruh sejarah tindakan subjek sebelumnya. Kita akan mengatakannya dengan sederhana kemudian bahwa setiap tindakan melibatkan aspek energi dan afektif dan struktur atau aspek kognitif, yang mana pada kenyataannya, merupakan perpaduan dari titik pandang berbeda yang telah disebutkan.&lt;br /&gt;Pada dasarnya, semua kesadaran terdiri dari dua hal, regulasi dari energi internal atau terdiri dari faktor pengendalian pertukaran energi dengan lingkungan eksternal. Dengan sendirinya hal ini akan dibayangkan sebagai suatu hal yang berkaitan dengan afeksi, dan oleh karena itu energetik, operasional, sikap pada nilai yang lebih tinggi, dan menjadikannya kecakapan dari keterbalikan dan percakapan (kesadaran moral, dan sebagainya) sama seperti yang juga dilakukan sistem operasi logika untuk sebuah konsep.&lt;br /&gt;Tapi jika semua perilaku, tanpa pengecualian, sampai pada yang berimplikasi terhadap kecerdasaan atau pada pengelolaan, pembentukan aspek afektif, interaksi dengan lingkungan di mana ajakan tersebut juga memerlukan sebuah bentuk atau struktur untuk menentukan lingkaran variasi kemungkinan antara subjek dan objek. Persepsi, pengetahuan senso-motorik (kebiasaan, dan sebagainya), pada pemahaman tindakan, hukuman, dan sebagainya, semua jumlah ini dengan suatu cara atau cara yang lain, membangun hubungan antara organisme dan lingkungan. Hal ini berada dalam apa yang mereka nyatakan sebagai afinitas tertentu di antara mereka yang membedakannya dari gejala afektif. Kita akan mengacu pada mereka, seperti fungsi kognitif dalam arti luas (untuk mengkategorikan adaptasi senso-motorik).&lt;br /&gt;Kehidupan afektif dan kognitif, untuk selanjutnya, tidak dapat dipisahkan meskipun keduanya berbeda. Keduanya tidak dapat dipisahkan karena interaksi dengan lingkungan melibatkan penataan dan penilaian, tapi keduanya tidak ada yang kurang terpisah, semenjak dua aspek dari perilaku ini tidak bisa direduksi lagi satu sama lain. Sehingga kita tidak dapat beralasan, sekalipun dalam matematika murni, tanpa mengalami kesadaran tertentu, dan sebaliknya tidak ada afeksi yang eksis tanpa adanya pemahaman sedikit pun atau tanpa adanya sedikit pun pembedaan. Pada tindakanlah intelegensia tercakup, selanjutnya pada regulasi internal dari energi (ketertarikan, tenaga, kenyamanan, dan sebagainya) dan regulasi eksernal (nilai-nilai yang dicari pemecahannya dan objek-objek bersangkutan yang dicari), tapi dua bentuk pengendalian ini terletak pada afeksi alamiah dan tinggal perbandingan dengan seluruh regulasi dari tipe ini. Dengan cara yang sama, elemen perseptual atau intelektual yang mana kita temukan dalam semua manifestasi emosi tergolong kesadaran, dengan jalan yang sama seperti reaksi perseptual atau intelektual yang lain. Apakah arti umum dari yang disebut dengan "kesadaran" dan "intelegensia" dalam hubungan keduanya sebagai dua "bakat" yang bertentangan, merupakan perilaku sederhana yang berhubungan dengan seseorang dan tindakan-tindakan yang mempengaruhi ide-ide atau hal-hal; tapi masing-masing dari bentuk perilaku ini, aspek afektif dan kognitif yang sama dari tindakan menjadi jelas, aspek-aspek yang mana pada kenyataannya selalu berhubungan dan tidak ada jalan menampilkan bakat-bakat secara terpisah.&lt;br /&gt;Lagipula, intelegensia itu sendiri tidak terdiri dari sebuah isolasi dan perbedaan kelas proses kognitif yang tajam. Ini tidak sepatutnya dikatakan, satu bentuk di antara yang lain; ini merupakan bentuk keseimbangan yang mana mengarah pada struktur yang menghasilkan persepsi, kecendrungan kebiasaan dan mekanisme dasar senso-motorik; maka intelegensia hanya merupakan bentuk keseimbangan yang mana mengarah pada kecendrungan ini. Hal ini harus dipahami bahwa intelegensia bukanlah bakat, penolakan ini mencakup kesinambungan fungsi radikal antara bentuk tertinggi pemikiran dan kelompok besar tipe terendah dari adaptasi kognitif dan motorik; maka intelegensia hanya merupakan bentuk keseimbangan yang mengarah pada kecendrungan ini. Hal ini tidak berarti, tentu saja, bahwa keputusan terdiri dari ko-ordinasi dari struktur perseptual, atau bahwa 'merasa' berarti adalah penarikan kesimpulan secara tak sadar (meskipun kedua teori ini telah dipertahankan), untuk keseimbangan fungsional pada tidak adanya jalan mencegah munculnya variasi atau bahkan heterogienitas di antara struktur. Setiap struktur yang menjadi pemikiran merupakan bentuk khusus dari keseimbangan, kurang lebih stabil dalam bidang yang terbatas dan kehilangan kestabilan ketika mencapai batas sebuah bidang. Tapi struktur ini, yang membentuk tingkat yang berbeda, akan dianggap menggantikan salah satu pendekatan lain dalam hukum perkembangan, sedemikian rupa sehingga masing-masing merealisir keseimbangan yang lebih inklusif dan stabil untuk sebuah proses muncul dari keadaan sebelumnya. Intelegensia dengan demikian hanyalah terminologi umum untuk mengindikasikan bentuk superior dari organisasi atau keseimbangan dari penstrukturan kognitif.&lt;br /&gt;Pandangan ini berarti, mulai dari awal, merupakan desakan pusat peran dari intelegensia dalam kehidupan mental dan dalam kehidupan organisme itu sendiri; intelegensia, struktur keseimbangan dari perilaku yang paling plastis dan pada saat yang sama merupakan struktur keseimbangan yang paling tahan lama, merupakan dasar sistem operasi kehidupan dan tindakan. Ini merupakan bentuk perkembangan tertinggi dari adaptasi mental, demikian dikatakan, instrumen yang harus ada pada interaksi antara subjek dan alam semesta ketika lingkup dari interaksi ini menjadi berada di seberang kelangsungan dan kontak sesaat untuk mencapai jangkauan yang luas dan stabilnya hubungan. Akan tetapi, di sisi lain, penggunaan terminologi ini merintangi kita untuk menentukan di manakah intelegensia dimulai; ini merupakan tujuan akhir, dan asalnya secara umum tidak dapat dibedakan dari adaptasi senso-motorik atau bahkan dari adaptasi biologis itu sendiri&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Piaget, Jean. 1960. Psychology of Intelligence. New Jersey: Littlefield, Adams &amp;amp; Co.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/607018575664909321-9127609017338499872?l=candrakris.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://candrakris.blogspot.com/feeds/9127609017338499872/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=607018575664909321&amp;postID=9127609017338499872' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/607018575664909321/posts/default/9127609017338499872'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/607018575664909321/posts/default/9127609017338499872'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://candrakris.blogspot.com/2009/02/letak-intelegensia-dalam-organisasi.html' title='&lt;blink&gt;Letak Intelegensia dalam Organisasi Mental&lt;/blink&gt;'/><author><name>candrakris</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01491464186327619483</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://4.bp.blogspot.com/-h3YLepbKi5g/TWJYwq6xOAI/AAAAAAAAAIc/pAqdjIx0j5A/s220/BMK%2B3%2B218.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-607018575664909321.post-3370701831399628543</id><published>2009-02-04T00:17:00.000-08:00</published><updated>2009-02-15T03:46:13.424-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>Kepada Deew</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Ada pasti suatu ketika&lt;br /&gt;suaramu 'kan begitu mengerikan untuk kudengar&lt;br /&gt;dan gelombang yang merambati telingaku&lt;br /&gt;menggetarkan jantung, untuk saat berikutnya&lt;br /&gt;moral, dan ketabahanku&lt;br /&gt;pada akhirnya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Jantungku remuk hatiku pecah&lt;br /&gt;tahu ujud rupa suara itu.&lt;br /&gt;Hidupku selanjutnya, barangkali,&lt;br /&gt;adalah pilihan:&lt;br /&gt;keinginan bertemu lagi, dan&lt;br /&gt;ketakutan menatap matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa kita berbicara seperti ini;&lt;br /&gt;aku di sini, berteriak,&lt;br /&gt;di seberang sana kau sumbat telingamu;&lt;br /&gt;tiadakah titian yang meniadakan&lt;br /&gt;jurang antara kita;&lt;br /&gt;ingin sekali aku meluncur ke dasarnya&lt;br /&gt;kalau itu harga untuk kata, "mas..."&lt;br /&gt;yang kau lesakkan, untuk dirimu sendiri selanjutnya,&lt;br /&gt;sesudah aku sampai di dasar&lt;br /&gt;dalam keadaan berkeping-keping: "...jangan..."&lt;br /&gt;dan meneruskannya dalam batin, "...loncat!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada kesangsian padaku&lt;br /&gt;akan tunas yang baru tumbuh itu.&lt;br /&gt;Meski usianya berbilang hari&lt;br /&gt;dia tumbuh dengan semua energi&lt;br /&gt;yang dimilikinya untuk hidup;&lt;br /&gt;tidak ada kehidupan lagi di sana&lt;br /&gt;seperti ladang tandus, mengering,&lt;br /&gt;seolah-olah rahmat tercerabut&lt;br /&gt;dari tanah itu.&lt;br /&gt;O, tunah tunas yang telah mati....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada perempuan yang pernah&lt;br /&gt;menjadi pupuk tunas itu,&lt;br /&gt;aku ingin engkau tak sendirian;&lt;br /&gt;akan aku temani tidurmu,&lt;br /&gt;langkah kakimu, suara hatimu,&lt;br /&gt;seluruh hidupmu&lt;br /&gt;dengan putihnya harapan&lt;br /&gt;doa, dan kutukan,&lt;br /&gt;dari gelapnya kebencian yang dalam.&lt;br /&gt;Aum, santih santih santih!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/607018575664909321-3370701831399628543?l=candrakris.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://candrakris.blogspot.com/feeds/3370701831399628543/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=607018575664909321&amp;postID=3370701831399628543' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/607018575664909321/posts/default/3370701831399628543'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/607018575664909321/posts/default/3370701831399628543'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://candrakris.blogspot.com/2009/02/kepada-deew.html' title='&lt;blink&gt;Kepada Deew&lt;/blink&gt;'/><author><name>candrakris</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01491464186327619483</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://4.bp.blogspot.com/-h3YLepbKi5g/TWJYwq6xOAI/AAAAAAAAAIc/pAqdjIx0j5A/s220/BMK%2B3%2B218.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-607018575664909321.post-4910169760537142371</id><published>2009-01-25T05:21:00.000-08:00</published><updated>2009-01-25T05:26:53.999-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>Aku Ingin</title><content type='html'>Jika bisa dengan jemari dikeluarkan,&lt;br /&gt;dan ditabur di atas meja,&lt;br /&gt;di hadapanmu, hati ini,&lt;br /&gt;tentu dia seperti&lt;br /&gt;manik-manik kecil&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;berwarna hitam;&lt;br /&gt;aku ingin kau&lt;br /&gt;mengulang masa kanak,&lt;br /&gt;memungutnya satu per satu,&lt;br /&gt;mendekatkannya ke biji matamu,&lt;br /&gt;mencoba merangkainya,&lt;br /&gt;dan pulang berpenuh saku&lt;br /&gt;manik-manik hatiku&lt;br /&gt;dalam keabadian&lt;br /&gt;masa lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi jika ditelantarkan,&lt;br /&gt;di atas meja, sendirian,&lt;br /&gt;segera dibekukan udara;&lt;br /&gt;dan sudah tidak ada&lt;br /&gt;hati bagiku;&lt;br /&gt;haruskah batu sekepal tangan&lt;br /&gt;menggantikan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan, ay, sudutnya tajam,&lt;br /&gt;disakitinya dagingku nanti.&lt;br /&gt;Baiknya, sebelum dikeluarkan&lt;br /&gt;dari dalam, dan ditebar untukmu,&lt;br /&gt;cegahlah; supaya tidak sia-sia,&lt;br /&gt;karena jika kata cinta diucap&lt;br /&gt;yang terakhir ini&lt;br /&gt;akan menuntut&lt;br /&gt;lebih banyak.&lt;br /&gt;tapi, di mana dia sekarang...!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/607018575664909321-4910169760537142371?l=candrakris.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://candrakris.blogspot.com/feeds/4910169760537142371/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=607018575664909321&amp;postID=4910169760537142371' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/607018575664909321/posts/default/4910169760537142371'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/607018575664909321/posts/default/4910169760537142371'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://candrakris.blogspot.com/2009/01/aku-ingin.html' title='&lt;blink&gt;Aku Ingin&lt;/blink&gt;'/><author><name>candrakris</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01491464186327619483</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://4.bp.blogspot.com/-h3YLepbKi5g/TWJYwq6xOAI/AAAAAAAAAIc/pAqdjIx0j5A/s220/BMK%2B3%2B218.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-607018575664909321.post-3886613169448119897</id><published>2009-01-25T02:15:00.000-08:00</published><updated>2009-01-25T02:29:18.764-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>Pesisir Blitar Selatan - Suatu ketika</title><content type='html'>Boleh aku bercerita&lt;br /&gt;tentang pantai ini:&lt;br /&gt;perbatasan asing - sunyi&lt;br /&gt;dan entah berapa penyair menulis&lt;br /&gt;di atas laut tak bernama&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;berapa pula sajak ditulis&lt;br /&gt;di bawah remang lampu kota&lt;br /&gt;Juga tak tahu berapa orang&lt;br /&gt;hilang-tenggelam di bibir ini...?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berjalan menyisir pantai&lt;br /&gt;seperti yang lalu, kini pun sendirian,&lt;br /&gt;Sesekali ombak menggerus&lt;br /&gt;Tanah yang kupijak berlarian&lt;br /&gt;Dan langit hijau di cakrawala&lt;br /&gt;bergelayut gelisah&lt;br /&gt;-di sini si mati memanggili!-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulayatkan mataku pada karang&lt;br /&gt;Pada ciuman si ombak&lt;br /&gt;Pada tiap jejak&lt;br /&gt;Tiap sajak&lt;br /&gt;yang menghilang-tenggelamkan aku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kupilih satu tempat untuk duduk&lt;br /&gt;Di cakrawala sana angin bersarang&lt;br /&gt;Dan di belakang sini berayun-ayun&lt;br /&gt;Hmm! Betapa indah!&lt;br /&gt;Betapa abadi?!&lt;br /&gt;Betapa kecilnya aku untuk abadi...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini kekasihku tenggelam&lt;br /&gt;Laut mengabadikan nama&lt;br /&gt;Salah satunya dia&lt;br /&gt;Pipi pualam&lt;br /&gt;Bibir&lt;br /&gt;Mata&lt;br /&gt;Dan buah dada&lt;br /&gt;Tandingan ratih di bumi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selalu ingin mendengar dia&lt;br /&gt;Mendendangkan lagu, bersama-sama,&lt;br /&gt;bertalian lagi&lt;br /&gt;Seperti pernah dia janjikan untuk aku&lt;br /&gt;tapi, di mana dia sekarang...!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/607018575664909321-3886613169448119897?l=candrakris.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://candrakris.blogspot.com/feeds/3886613169448119897/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=607018575664909321&amp;postID=3886613169448119897' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/607018575664909321/posts/default/3886613169448119897'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/607018575664909321/posts/default/3886613169448119897'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://candrakris.blogspot.com/2009/01/pesisir-blitar-selatan-suatu-ketika.html' title='&lt;blink&gt;Pesisir Blitar Selatan - Suatu ketika&lt;/blink&gt;'/><author><name>candrakris</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01491464186327619483</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://4.bp.blogspot.com/-h3YLepbKi5g/TWJYwq6xOAI/AAAAAAAAAIc/pAqdjIx0j5A/s220/BMK%2B3%2B218.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-607018575664909321.post-5397729442887088400</id><published>2009-01-24T21:13:00.000-08:00</published><updated>2009-01-28T12:31:37.981-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='psikologi'/><title type='text'>Perkembangan Kognitif pada Awal Keremajaan dan Anak-anak</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Prinsip Dasar dari Perkembangan Kognitif&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Secara alamiah anak-anak selalu ingin tahu. Mereka selalu ingin memberi arti atas pengalaman mereka dan dalam prosesnya, membangun pemahaman mereka atas dunia. Bagi Piaget, anak-anak pada semua usia seperti seorang ilmuwan dalam menciptakan teori mereka sendiri mengenai bagaimana dunia bekerja. Tentu saja, teori anak-anak seringkali tidak lengkap. Meski demikian, teori anak-anak tersebut sangat penting bagi mereka karena mereka membuat dunia nampak lebih mudah diperkirakan.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Anak-anak memahami dunia melalui sebuah schemes, yaitu suatu struktur psikologis yang mengorganisir pengalaman. Schemes merupakan kategori mental yang berhubungan dengan kejadian, objek, dan pengetahuan. Pada remaja, schemes lebih banyak didasarkan pada tindakan. Karena itulah kelompok anak-anak mendasarkan objeknya pada tindakan yang mampu menunjukkan kemampuan mereka. Sebagai contoh, anak menyerap dan mengerti, mereka menggunakan tindakan ini untuk menciptakan kategori objek yang dapat diserap dan objek yang dapat dimengerti.&lt;br /&gt;Schemes lebih penting pada masa sesudah remaja, tapi mereka tahu bahwa prinsip utama dari hubungan fungsional atau konseptual bukanlah tindakan. Sebagai contoh, anak usia pra-sekolah belajar bahwa garpu, pisau, dan sendik merupakan bentuk kategori fungsional dari "sesuatu yang saya gunakan untuk makan." Atau mereka belajar bahwa anjing, kucing, dan ikan mas merupakan bentuk kateofri konseptual dari "binatang peliharaan."&lt;br /&gt;Seperti anak-anak usia pra-sekolah, anak-anak yang lebih tua dan remaja memiliki schemes dasar pada schemes fungsional dan konseptual. Tapi mereka juga memiliki schemess yang didasarkan pada pengembangan hal-hal yang abstrak. Sebagai contoh, para remaja mungkin meletakkan fasisme, rasisme, dan seksualisme ke dalam "ideologi yang saya benci."&lt;br /&gt;Dengan demikian, schemes dari hubungan antar objek, kejadian, dan ide akan nampak melalui perkembangan. Tapi sebagaimana perkembangan pada anak-anak, peran mereka utuk menciptakan schemes dan aktivitas fisik ke fungsional, konseptual, dan, kemudian, sifat abstrak dari suatu objek, tindakan, dan ide.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Asimilasi dan Akomodasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Schemes berubah secara konstan, sesuai dengan pengalaman anak-anak. Pada dasarnya, adaptasi intelektual menyertakan dua proses yang bekerja bersama-sama: asimilasi dan akomodasi. Asimilasi terjadi ketika pengalaman-pengalaman baru siap dikorporasikan ke dalam keberadaan schemes. Bayangkan seorang bayi yang akrab dengan schemes pengertian. Dia akan segera menemukan bahwa schemes pengertian dapat juga diterapkan pada balok-balok, mobil mainan, dan objek-objek kecil lain. Mengembangkan keberadaan pengertian schemes kepada objek-objek baru mengilustrasikan terjadinya asimilasi. Akomodasi terjadi ketika schemes diubah berdasarkan pada pengalaman. Dengan ccepat anak-anak akan belajar bahwa beberapa objek dapat diangkat jika menggunakan dua tangan dan bahwa beberapa objek lain tidak dapat diangkat semuanya. Mengubah schemes sehingga hal yang terjadi tersebut sesuai untuk objek baru mengilustrasikan akomodasi.&lt;br /&gt;Asimilasi dan akomodasi seringkali lebih mudah untuk dipahami ketika anda ingat bahwa Piaget percaya bahwa anak-anak, dan remaja menciptaka teori untuk mencoba memahami peristiwa dan objek di sekeliling mereka. Kanak-kanak yang berteori bahwa sebuah objek bisa diangkat dengan menggunakan satu tangan menemukan bahwa teorinya sesuai ketika dia mencoba mengangkat objek-objek kecil, tapi dia akan terkejut ketika dia mencoba mengangkat buku yang berat dengan menggunakan ssatu tangan. Hasil tak terduga yang diperoleh anak-anak, layaknya seorang ilmuwan handal, akan memperbaiki teorinya untuk memasukkan penemuan baru itu.&lt;br /&gt;Equilibrasi dan Tahap-tahap Perkembangan Kognitif&lt;br /&gt;Asimilasi dan akomodasi biasanya berada dalam keseimbangan, atau equilibrium. Seorang anak menemukan begitu banyak pengalaman yang siap diakomodasi ke dalam keberadaan schemes mereka, tapi kadang mereka perlu mengakomodasikan schemes mereka untuk memecahkan persoalan pada pengalaman yang baru didapatkan. Keseimbangan antara asimilasi dan akomodasi ini diilustrasikan oleh bayi dengan teori pengangkatan objek. Secara bertahap, bagaimanapun juga, keseimbangan ini akan menjadi kacau, dan keadaan dari hasil disequilibrium. Dalam hal itu, anak menemukan bahwa hal-hal di dalam schemes merka tidak memadai sebab mereka menghabiskan lebih banyak waktu untuk berakomodasi dan lebih sedikit waktu untuk berasimilasi. Ketika terjadi disequilibrium, seorang anak mengatur kembali schemes mereka untuk kembali pada keadaan equilibrium, proses yang oleh Piaget disebut equilibrasi. Untuk memperbaiki keseimbangan, pada umumnya - tapi sekarang sudah bukan modenya lagi - cara untuk berpikir telah digantikan oleh nilai yang berbeda, lebih banyak mengatur kemajuan schemes.&lt;br /&gt;Salah satu cara untuk memahami equalibrasi adalah kembali pada metafora dari "seorang bayi layaknya seorang ilmuwan." Teori pada anak-anak membantu mereka untuk memahami banyak pengalaman dengan mempredeksikannya. Sebagai contoh, apa yang akan terjadi ("ini waktunya pagi hari, jadi ini adalah waktunya untuk sarapan"), atau siapa dan akan melakukan apa ("mama pagi bekerja, jadi ayah akan mengantarku ke sekolah"), tapi teori tersebut harus diubah ketika predeksinya bergeser ("ayah pikir aku cukup dewasa untuk berjalan sendiri ke sekolah, jadi dia tidak mau mengantarku").&lt;br /&gt;Terkadang seorang ilmuwan menemukan bahwa dalam teori mereka terdapat kesalahan-kesalahan kritis yang tidak dapat ditata lagi dengan revisi yang sederhana; sementara itu, mereka harus menciptakan teori baru yang juga mengabaikan teori yang sebelumnya akan tetapi berbeda secara fundamental. Sebagai contoh, ketika astronom Copernicus menyatakan bahwa teori yang menyatakan bahwa bumi sebagai pusat sistem solah secara fundamental salah, teori barunya dibangun dengan asumsi bahwa matahari adalah pusat dari sistem solar. Dengan jalan yang sama, sebagian besar anak-anak secara periodik mencapai keadaan di mana teoru yang mereka pegang nampak banyak memiliki kesalahan, lalu mereka meninggalkan teori tersebut dengan jalan mengembangkan lebih banyak cara untuk berpikir mengenai lingkungan fisik dan sosial mereka.&lt;br /&gt;Perubahan revolusioner dalam pemikiran ini terjadi sebanyak tiga kali, kurang lebih pada usia 2, 7, dan 11 tahun. Pembagian perkembangan kognitif ini terbagi ke dalam empat tahapan:&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Periode senso-motorik                                     0-2 tahun&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Periode pra-operasional                                   2-7 tahun&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Periode pernyataan-operasional                    7-11 tahun&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Periode operasional formal                             11 tahun ke atas&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Daftar usia di atas hanya didasarkan pada perkiraan rata-rata. Beberapa remaja bergerak melewati sebuah periode lebih cepat dari yang lain, tergantung pada kepandaian dan pengalaman mereka. Bagaimanapun juga, jalan yang harus ditempuh untuk mencapai periode operasional formal - sebagian besar tipe sophistik dan pikiran - adalah dengan melewati tiga periode awal. Periode berpikir senso-motorik selalu memberikan pertumbuhan ke arah berpikir pra-operasional; seorang anak tidak bisa "melewatkan" tahap berpikir pra-operasional dan bergerak langsung dari periode senso-motorik ke periode pernyataan-operasional.&lt;br /&gt;Berpikir Senso-Motorik&lt;br /&gt;Piaget yakin bahwa dua tahun pertama tahapan distingtif pada perkembangan manusia. Periode senso-motorik, yang dimulai sejak lahir sampai kira-kira usia 2 tahun, merupakan periode pertama dari perkembangan kognitif Piaget. Selama 24 bulan pada tahapan ini, kemajuan berpikir bayi ditandai dengan tiga sektor penting&lt;br /&gt;Sumber: Jean Piaget, The Language and Thougt of the Child, New York: 1926&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/607018575664909321-5397729442887088400?l=candrakris.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://candrakris.blogspot.com/feeds/5397729442887088400/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=607018575664909321&amp;postID=5397729442887088400' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/607018575664909321/posts/default/5397729442887088400'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/607018575664909321/posts/default/5397729442887088400'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://candrakris.blogspot.com/2009/01/perkembangan-kognitif-pada-awal.html' title='Perkembangan Kognitif pada Awal Keremajaan dan Anak-anak'/><author><name>candrakris</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01491464186327619483</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://4.bp.blogspot.com/-h3YLepbKi5g/TWJYwq6xOAI/AAAAAAAAAIc/pAqdjIx0j5A/s220/BMK%2B3%2B218.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-607018575664909321.post-7773104292611984339</id><published>2009-01-23T11:40:00.000-08:00</published><updated>2009-01-23T12:40:43.810-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='essai sastra'/><title type='text'>Kering - Pembacaan Ulang</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 0, 0);"&gt;"...maka &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(153, 0, 0);"&gt;dia&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 0, 0);"&gt; dengan sendirinya sudah ada dalam tanah. Ini kebenaran rangkap dua. Berlebih-lebihan. Kebenaran yang menciptakan filsuf-filsuf palsu di sekitar 2 x 2 = 4."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       Petikan di atas merupakan kalimat yang diucapkan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tokoh kita&lt;/span&gt; untuk memotong pernyataan selanjutnya yang akan diucapkan oleh &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Si Botak Kacamata&lt;/span&gt; dalam novel &lt;span style="font-style: italic;"&gt;'Kering'&lt;/span&gt; karya Iwan Simatupang. Membacai novel-novel dan essai-essai Iwan, sehubungan dengan petikan di atas, saya digitik pertanyaan: "Siapakah kiranya filsuf-filsuf palsu di sekitar 2 x 2 = 4 itu?"&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;    Dalam kaitannya dengan prinsip intertekstualitas, saya mencoba menghubungkan novel  &lt;span style="font-style: italic;"&gt;'Kering' &lt;/span&gt;dengan novel lain, yaitu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;'Catatan dari Bawah Tanah'&lt;span style="font-style: italic;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;karya Dostoyevsky. Penghubungan antara dua novel tersebut didasarkan dari beberapa pendapat Iwan yang menyatakan: "...omongan begini, paling banter hanya akan saya jadikan sebagai contoh, sampai di mana manusia menjadi merosot moralnya, tak sopan! Omongan dari seorang manusia &lt;span style="font-style: italic;"&gt;souterrain&lt;/span&gt; yang memulai memoirnya demikian: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;'ik been een ziek...ik been slecht mens...'. &lt;/span&gt;Sedang dalam novel  Iwan mengatakan: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Dia telah punya kesibukan yang mengucurkan keringatnya dan memelihara otot-ototnya. Moralnya tidak akan menjadi bejat disebabkan terlalu banyak waktu luang."&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;        Dari pernyataan tersebut dapat diketahui bagaimana persepsi Iwan terhadap tokoh sakit dalam novel &lt;span style="font-style: italic;"&gt;'Catatan dari Bawah Tanah'&lt;/span&gt; karya Dostoyevsky, yaitu manusia yang sudah merosot moralnya karena terlalu banyak berdiam diri, tak sopan! Sekali pun pernyataan Iwan tersebut diletakkan dalam konteks untuk mengkritik sebuah essai yang ditulis oleh oleh penulis berinisial H.S. yang dilontarkan padanya, di dalamnya terkandung juga persepsi Iwan atas si tokoh sakit dalam novel &lt;span style="font-style: italic;"&gt;'Catatan dari Bawah Tanah'&lt;/span&gt; karya Dostoyevsky.&lt;br /&gt;        Selain itu terdapat formula matematis '2 x 2 = 4' yang sama-sama digunakan oleh Iwan dan Dostoyevsky dalam novel masing-masing. Pada Dostoyevsky, formula tersebut dimaksudkan sebagai simbol dari hukum alam yang tidak dapat dilawan, atau sebagai simbil dari ketentuan matematis yang mutlak tanpa bisa ditawar-tawar lagi. Begitu juga dengan Iwan, formula matematis tersebut dimaksudkan sebagai simbol dari sesuatu yang sama, yang tidak bisa ditawar-tawar lagi, yaitu hukum alam. Akan tetapi kedua pengarang tersebut memiliki perbedaan pandangan dalam menghadapi hukum-hukum alam yang tak tergoyahkan tersebut. Tokoh dalam novel &lt;span style="font-style: italic;"&gt;'Catatan dari Bawah Tanah'&lt;/span&gt; Dostoyevsky cenderung tidak menerima hukum alam atau takdir yang telah tetap tersebut dengan jalan mencibirkannya secara diam-diam. Sebab, menurutnya, ini adalah sifat yang paling manusiawi, yaitu sifat manusia yang suka mencela takdirnya sendiri. Sebaliknya, dalam novel &lt;span style="font-style: italic;"&gt;'Kering'&lt;/span&gt;  Iwan cenderung bersikap pasrah/menerima keadaan matematis yang telah digariskan.&lt;br /&gt;        Bertolak dari hal ini, maka saya baca ulang novel &lt;span style="font-style: italic;"&gt;'Kering'&lt;/span&gt; karya Iwan, dan nyatalah bahwa &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tokoh kita&lt;/span&gt; dalam novel tersebut merupakan tokoh yang berusaha melawan kemerosotan moral yang mungkin terjadi dalam dirinya. Atau, dengan kata lain, tokoh dalam novel tersebut merupakan kontras dari tokoh dalam novel &lt;span style="font-style: italic;"&gt;'Catatan dari Bawah Tanah'&lt;/span&gt; karya Dostoyevsky. Sebagai contoh; di perkampungan transmigrasi yang ditinggalkan oleh penghuninya,  menyibukkan diri dengan bekerja menggali sumur; pun demikian di kampung bekas gerombolan, diadakan pembagian tugas antara kesibukan membuat guci dan memasak. Dari sini dapat diduga proposisi yang hendak dinyatakan Iwan: melawan sebisa mungkin keadaan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;'ennui'&lt;/span&gt;, kelesuan pikiran karena tidak ada sesuatu yang dikerjakan.&lt;br /&gt;        Dalam percakapan antara &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tokoh kita&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;si janggut&lt;/span&gt;, dapat dilihat bagaimana keadaan tidak adanya pekerjaan berusaha ditolak oleh tokoh-tokoh Iwan:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Berkata kau tadi: Berkelahi, sampai mereka bosan berkelahi. Apa ini tidak mungkin bakal terjadi antara kita berdua?&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Maksudmu: Kita berdua bakal berkelahi?&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mungkin saja. Si janggut tertawa.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tapi, kita memiliki apa yang tidak dimiliki anjing-anjing itu. Yaitu, kemahiran untuk sebelumnya mempermasalahkannya. Dengan cara begini, kemungkinan itu kita perkecil. Rumah tangga dari kemahiran yang kusebut tadi, kalau tidak salah terdiri dari jenjang-jenjang berikut: (1) kita tahu, kita iseng: (2) oleh sebab itu, kita bisa berkelahi, makanya, sebaiknya kita jangan berkelahi. Kumpulan kemahiran-kemahiran seperti inilah yang mungkin juga disebut kebudayaan manusia itu...&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sekiranya kita berkelahi juga...?&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kukira, soalnya mulai rumit. Mungkin kita berkelahi, justru karena kemahiran itu jugalah...&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Pada kutipan di atas dapat dilihat bagaimana keisengan - yang mereka saksikan melalui anjing-anjing yang saling berkelahi sampai bosan berkelahi. Makan sampai bosan makan lagi. Tidur lagi, sampai bosan tidur lagi, -keadaan yang memungkinkan manusia berada dalam kemerosotan moral melalui tindakan-tindakan yang disebabkan oleh keisengannya sendiri. Atau, dengan kata lain, oleh tindakan-tindakan yang dilakukan begitu saja karena tidak ada tindakan lain yang mesti dikerjakan! Dan untuk mencegah hal itu terjadi, manusia mesti mencari kesibukan buat dirinya, pun kalau kesibukan itu adalah: berbicara dengan sesuatu yang absurd.&lt;br /&gt;        Sedangkan dalam novel Dostoyevsky dapat dilihat kutipan berikut: "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Jauh di lubuk hatiku tidak ada keyakinan pada penderitaanku, hanya sekilas cemooh, tapi sungguh pun begitu aku menderita dengan cara yang kuno, dan sesungguhnya aku cemburu luar biasa...dan semuanya karena ennui; suatu kelembaman menguasai diriku."&lt;/span&gt; Tokoh sakit dalam novel ini terus menerus mengurung diri dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;lobang ciptaannya sendiri&lt;/span&gt;. Bahkan tokoh ini menghindari kerja yang merupakan tindakan manusia yang paling dasar. Dia mengundurkan diri dari jabatannya setelah mendapat warisan untuk berdiam diri di dalam lobangnya. Dapat dikatakan bahwa tokoh dalam novel ini mengalami titik di mana pikiran menjadi begitu lesu, karena tidak adanya pekerjaan yang harus dilakukan selain menguras kenangan dan penderitaannya dengan menambahkan detil-detil yang lebih menyakitkan lagi di dalamnya.&lt;br /&gt;        Dari sini dapat dilihat bagaimana keadaan moral &lt;span style="font-style: italic;"&gt;si tokoh sakit&lt;/span&gt; dalam novel &lt;span style="font-style: italic;"&gt;'Catatan dari Bawah Tanah'&lt;/span&gt;. Ini berbeda sekali dengan yang dinyatakan oleh tokoh Iwan dalam novel &lt;span style="font-style: italic;"&gt;'Kering'&lt;/span&gt;. Di sini saya melihat adanya sebuah hubungan intertekstual pada kedua novel tersebut; hubungan intertekstual di mana novel Dostoyevsky dijadikan sebagai hipogram oleh Iwan dalam menulis novel &lt;span style="font-style: italic;"&gt;'Kering'&lt;/span&gt;. Secara kontrasif, Iwan membalikkan esensi yang ada pada karya sebelumnya, yaitu pada usaha tokohnya dalam menghadapi satu kemungkinan dari manusia: takdir.&lt;br /&gt;        Lalu, sudah terjawabkah pertanyaan: siapakah filsuf-filsuf palsu di sekitar 2 x 2 = 4 itu? Secara keseluruhan: tidak! mengingat luasnya literatu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/607018575664909321-7773104292611984339?l=candrakris.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://candrakris.blogspot.com/feeds/7773104292611984339/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=607018575664909321&amp;postID=7773104292611984339' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/607018575664909321/posts/default/7773104292611984339'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/607018575664909321/posts/default/7773104292611984339'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://candrakris.blogspot.com/2009/01/kering-pembacaan-ulang.html' title='&lt;blink&gt;Kering - Pembacaan Ulang&lt;/blink&gt;'/><author><name>candrakris</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01491464186327619483</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://4.bp.blogspot.com/-h3YLepbKi5g/TWJYwq6xOAI/AAAAAAAAAIc/pAqdjIx0j5A/s220/BMK%2B3%2B218.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-607018575664909321.post-4423458541687777725</id><published>2009-01-23T10:35:00.000-08:00</published><updated>2009-01-23T10:55:58.391-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='terjemahan'/><title type='text'>Terjemahan Sajak Leopardi</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sabtu Malam di Desa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis itu datang dari ladang,&lt;br /&gt;ketika senja,&lt;br /&gt;membawa rerumputan: di antara jemarinya&lt;br /&gt;seikat bunga violet dan mawar&lt;br /&gt;dia bersiap, setelah sebelumnya,&lt;br /&gt;untuk merias rambut dan tubuhnya,&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;untuk libur esok.&lt;br /&gt;Seorang perempuan tua duduk memintal,&lt;br /&gt;memandang tenggelamnya sinar matahari,&lt;br /&gt;di atas tangga, dengan saudaranya,&lt;br /&gt;mengisahkan cerita semasa mudanya,&lt;br /&gt;ketika dia berias untuk festival,&lt;br /&gt;dan ketika masih bertubuh langsing dan manis,&lt;br /&gt;menari sepanjang sore, dengan seorang&lt;br /&gt;pemuda, yang menemaninya sepanjang pesta.&lt;br /&gt;Segera seluruh langit akan gelap,&lt;br /&gt;udara bertukar biru-gelap: segera&lt;br /&gt;bayangan bukit dan atap kembali&lt;br /&gt;dalam sinar pucat bulan muda.&lt;br /&gt;Sekarang bunyi bel akan menjadi saksi&lt;br /&gt;akan kedatangan hari libur:&lt;br /&gt;kau hendak berkata dalam hati&lt;br /&gt;kekuatan lembut membawa dari udara.&lt;br /&gt;Sekumpulan bocah kecil&lt;br /&gt;bersorak dalam kotak kecil,&lt;br /&gt;melompat ke sana ke mari,&lt;br /&gt;membuat riuh-gembira:&lt;br /&gt;dan tangan petani, bersiul,&lt;br /&gt;kembali pada jagungnya yang sederhana,&lt;br /&gt;memimpikan masa istirahatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika lampu yang lain padam, semua kembali,&lt;br /&gt;dan segalanya sunyi,&lt;br /&gt;aku mendengar palu berdentam, aku mendengar&lt;br /&gt;tukang menggergaji: dia tetap terbangun&lt;br /&gt;di bawah sinar lampu, menyelesaikan pekerjaannya,&lt;br /&gt;terburu-buru dan tegang,&lt;br /&gt;untuk segera menyelesaikannya sebelum subuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah tujuh hari terbaik,&lt;br /&gt;penuh harapan dan kegembiraan:&lt;br /&gt;esok waktu akan membawa&lt;br /&gt;kegelisahan dan kesedihan, dan membawanya&lt;br /&gt;ke dalam, dalam pikiran, kerja keras sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bocah yang penuh semangat,&lt;br /&gt;hidupmu manis seperti bunga&lt;br /&gt;seperti hari ini penuh kegembiraan,&lt;br /&gt;hari cemerlang, langit terang,&lt;br /&gt;kegembiraan sebelum festival.&lt;br /&gt;Menikmati jam yang manis, anakku,&lt;br /&gt;ini hiburan, musim yang menggembirakan.&lt;br /&gt;Aku tidak akan berkata lebih banyak: biar itu&lt;br /&gt;                                                    tidak mendukakanmu.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Untuk Diri Sendiri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang kau akan istirahat selamanya&lt;br /&gt;hatiku yang lelah. Ilusi terakhir telah mati&lt;br /&gt;aku memikirkan keabadian. Mati. Aku merasa, dalam&lt;br /&gt;                kebenaran,&lt;br /&gt;bukan hanya harapan, tapi kegairahan&lt;br /&gt;atas ilusi yang telah lenyap.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Istirahat selamanya. Kerjamu&lt;br /&gt;sudah cukup. Tidak hanya pikiran&lt;br /&gt;denyutmu yang berharga: bumi tidak menghargai&lt;br /&gt;keberadaanmu. Pahit dan membosankan,&lt;br /&gt;adalah kehidupan, tidak lebih: dan dunia adalah&lt;br /&gt;                lumpur.&lt;br /&gt;Diamlah sekarang. Hilang harapan&lt;br /&gt;untuk terakhir kalinya. Untuk jalan takdir kita&lt;br /&gt;hanya diberi kematian. Sekarang alam menghina,&lt;br /&gt;bahwa pertahanan si kejam&lt;br /&gt;bahwa penguasa rahasia yang menguasai rasa sakit,&lt;br /&gt;dan yang tak berhingga mengosongkan semuanya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/607018575664909321-4423458541687777725?l=candrakris.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://candrakris.blogspot.com/feeds/4423458541687777725/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=607018575664909321&amp;postID=4423458541687777725' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/607018575664909321/posts/default/4423458541687777725'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/607018575664909321/posts/default/4423458541687777725'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://candrakris.blogspot.com/2009/01/terjemahan-sajak-leopardi.html' title='&lt;blink&gt;Terjemahan Sajak Leopardi&lt;/blink&gt;'/><author><name>candrakris</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01491464186327619483</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://4.bp.blogspot.com/-h3YLepbKi5g/TWJYwq6xOAI/AAAAAAAAAIc/pAqdjIx0j5A/s220/BMK%2B3%2B218.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-607018575664909321.post-6431898172654632535</id><published>2009-01-23T06:19:00.000-08:00</published><updated>2009-01-23T10:58:36.705-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>Dongeng Tiga Babak</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;I&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kelahiranmu memintaku memutari jagad,&lt;br /&gt;menyeru pada alam, pada anjing-anjing liar untuk melolong,&lt;br /&gt;sekawanan burung malam menyerak di atap rumah-rumah&lt;br /&gt;dan sekalian segenap hewan biar buas menggeram&lt;br /&gt;Kudirikan pemujaan di legah tegal lapang&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;yang dipilihkan dewata&lt;br /&gt;bagi tempat kau kuburkan aku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berapa lama lagi waktu itu?&lt;br /&gt;Hari, bulan, windu menyampaikan kedaraanmu;&lt;br /&gt;meriap percik api pemujaan&lt;br /&gt;O, sesanti penanti yang menikam....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pilih tuah batu-batu hitam untuk kubur,&lt;br /&gt;aku bangkitkan arwah seribu lembu jantan&lt;br /&gt;dan menggembalakannya untukmu, Putri,&lt;br /&gt;di pusat padang keramat terpilih&lt;br /&gt;Tapi, keakuan raga mencemooh:&lt;br /&gt;adakah semua ini menahanku,&lt;br /&gt;hendak kuputar taman kayangan Sriwedari&lt;br /&gt;bagi pangkuanmu seorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi bukan itu yang tinggal padaku&lt;br /&gt;Langit merah, kokok ayam, dan keramaian&lt;br /&gt;layaknya pagi adalah tanda bagiku&lt;br /&gt;Lagipula kejemuan menempuh berpuluh kota&lt;br /&gt;berdinding tinggi dengan sembilan pintu gerbang&lt;br /&gt;membekukan kaki-kaki kuda keretaku,&lt;br /&gt;membawaku pada janji pertemuan denganmu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan jika saat itu tiba kau 'kan tertegun&lt;br /&gt;Malam-malammu akan memimpikan lelaki bertanduk&lt;br /&gt;dengan barisan otot memanjang bagai beribu lembu&lt;br /&gt;yang berbaris, yang sanggup menggali&lt;br /&gt;sampai ke dasar bumi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;II&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Selalu seperti kau menatap ke dasar sumur&lt;br /&gt;menyisir kembali jejak langkahmu&lt;br /&gt;menuju padang keramat yang kini&lt;br /&gt;menjadi tungku penyekaman&lt;br /&gt;melambaikan selendang hijau&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;melelapkan kegelisahan mimpi&lt;br /&gt;dari abad-abad yang telah lewat&lt;br /&gt;Angin-angin bergemuruh&lt;br /&gt;membawakan gamelan lokananta dari kayangan&lt;br /&gt;mengibarkan rambutmu yang hitam&lt;br /&gt;O, perempuan yang kecantikannya&lt;br /&gt;menyangga langit&lt;br /&gt;amukku amuk arwah seribu lembu jantan&lt;br /&gt;yang berderap menuruni gunung&lt;br /&gt;melindas seluruh yang ada&lt;br /&gt;mewarnai langit dengan busa abu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selalu seperti kau turun dari gunung ini&lt;br /&gt;berjalan bersejingkat agar tak membangunkanku&lt;br /&gt;Tapi aroma yang meriap dari balik kembenmu&lt;br /&gt;menghempaskan tidurku dalam igau&lt;br /&gt;memanasi seluruh sisa darahku!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Windu-windu terlempit di dinding kepundan&lt;br /&gt;seperti bangun di pinggir setumpuk kitab&lt;br /&gt;mencari matahari yang selalu jauh&lt;br /&gt;Dan bila bayangna purnama terangi tempat ini&lt;br /&gt;terdengar kidung dari langit&lt;br /&gt;O, dasar sumur terpilih&lt;br /&gt;kapankah tiba waktu bagiku untuk bangkit,&lt;br /&gt;apakah laut telah merengkuh daratan,&lt;br /&gt;dan bumi bergetar seluruhnya?&lt;br /&gt;Bagaimana, bagaimana, bagaimana teguh terus&lt;br /&gt;dalam kekelaman ikhlas?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kupilih batu hitam paling besar&lt;br /&gt;melemparkannya tinggi-tinggi&lt;br /&gt;dan menunggu dalam telanjang telentang&lt;br /&gt;di tempat titik jatuhnya&lt;br /&gt;Sudah tergurat dalam suratan alam&lt;br /&gt;pecinta sepertiku mati membujur dendam&lt;br /&gt;atau, haruskah perjanjian dengan dewata dilupakan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selalu, selalu, dan akan selalu seperti kau&lt;br /&gt;bersandar ketakutan menatap dasar&lt;br /&gt;dalam malam bertemaram senandung purnama&lt;br /&gt;Kau persembahkan angin, korban-korban, sesaji&lt;br /&gt;Sebuah palah kau bangunkan&lt;br /&gt;Adakah tuah di dunia mengubur sukmaku!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;III&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;'rontak tiap gusarku ini&lt;br /&gt;juga resah gelisahi kodrat,&lt;br /&gt;bahwa mulut kepundan mudah&lt;br /&gt;didaki, dan sekali&lt;br /&gt;gedrug gemeludug&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;bumi kayangan&lt;br /&gt;ada suatu pasti ketika:&lt;br /&gt;maka menangislah aku lalu&lt;br /&gt;jiwa penggelisah ini&lt;br /&gt;- memang harus - terkurung,&lt;br /&gt;dan diam;&lt;br /&gt;bahwa di dasar gunung ini&lt;br /&gt;sembilan cinta&lt;br /&gt;berkekuatan lembu&lt;br /&gt;terperipih&lt;br /&gt;sedang langit,&lt;br /&gt;peteduh akan satu kita,&lt;br /&gt;mengarak teratai:&lt;br /&gt;di kelam luhur ikhlas&lt;br /&gt;di lantang lenguh jiwa&lt;br /&gt;berterus teguh...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;maka, untuk aku, berdoalah, putri&lt;br /&gt;dari tiap suci wirid perawanmu&lt;br /&gt;agar abu yang menyampiri angkasa,&lt;br /&gt;dan semelang gemeludug bumi dan langit&lt;br /&gt;menjelma puja;&lt;br /&gt;maka, doani mana pintakan ini&lt;br /&gt;selain engkau, kasih&lt;br /&gt;bagi tiap jengkal kekalku&lt;br /&gt;di dasar kepundan ini!&lt;br /&gt;Surabaya, Oktober-Desember 2006&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/607018575664909321-6431898172654632535?l=candrakris.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://candrakris.blogspot.com/feeds/6431898172654632535/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=607018575664909321&amp;postID=6431898172654632535' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/607018575664909321/posts/default/6431898172654632535'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/607018575664909321/posts/default/6431898172654632535'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://candrakris.blogspot.com/2009/01/dongeng-tiga-babak.html' title='&lt;blink&gt;Dongeng Tiga Babak&lt;/blink&gt;'/><author><name>candrakris</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01491464186327619483</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://4.bp.blogspot.com/-h3YLepbKi5g/TWJYwq6xOAI/AAAAAAAAAIc/pAqdjIx0j5A/s220/BMK%2B3%2B218.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-607018575664909321.post-6998045713220756986</id><published>2009-01-22T14:31:00.000-08:00</published><updated>2009-01-22T14:37:51.549-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>Pejalan Hipotermia</title><content type='html'>dik, di tengah badai, antara pejalan hipotermia dan&lt;br /&gt;dataran rendah hangat di sana&lt;br /&gt;jalanan mesti direntas&lt;br /&gt;janji temu cakap kita meritintis pengakuan&lt;br /&gt;aku tahu kau coba sangkal tahumu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku lebih ingin tidak bertemu&lt;br /&gt;tapi satu tragik kau buka&lt;br /&gt;aku lakon kau penulis&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;rebut tempat purna carita&lt;br /&gt;dan bagai penulis yang baik&lt;br /&gt;kau suruk ke langit&lt;br /&gt;lalu mulai dari kelingking kau lepas&lt;br /&gt;jemarimu dari tubuhku&lt;br /&gt;satu per satu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku lakon, pejalan hipotermia&lt;br /&gt;sebelum kisahmu tutup&lt;br /&gt;aku lintasi remasan-remasan kertas&lt;br /&gt;tiap satu tragik coba kau kemas&lt;br /&gt;dan sebelum kisahku tutup&lt;br /&gt;aku ingatkan kau tentang ini!&lt;br /&gt;&lt;blink&gt;Pasuruan, 5 Agustus 2007&lt;/blink&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/607018575664909321-6998045713220756986?l=candrakris.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://candrakris.blogspot.com/feeds/6998045713220756986/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=607018575664909321&amp;postID=6998045713220756986' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/607018575664909321/posts/default/6998045713220756986'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/607018575664909321/posts/default/6998045713220756986'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://candrakris.blogspot.com/2009/01/pejalan-hipotermia.html' title='&lt;blink&gt;Pejalan Hipotermia&lt;/blink&gt;'/><author><name>candrakris</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01491464186327619483</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://4.bp.blogspot.com/-h3YLepbKi5g/TWJYwq6xOAI/AAAAAAAAAIc/pAqdjIx0j5A/s220/BMK%2B3%2B218.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-607018575664909321.post-3208518594141321088</id><published>2009-01-21T13:48:00.000-08:00</published><updated>2009-01-22T14:21:54.223-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sosial'/><title type='text'>Alienasi dan Burnout</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/5/55/Alienation.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 165px; height: 124px;" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/5/55/Alienation.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;blink&gt;Ketika&lt;/blink&gt;&lt;/span&gt; para pekerja merasa bahwa apa yang mereka lakukan tidak berarti sama sekali dan usaha mereka dirasa kehilangan nilai, atau ketika mereka tidak melihat hubungan antara apa yang mereka lakukan sekarang dengan hasil akhir, apakah yang akan terjadi?&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;       Tampaknya &lt;/span&gt;alienasi menjadi problem yang mudah sekali berjangkit di kalangan pekerja, terutama pekerja dengan sistem kontrak di mana mereka tidak memiliki kepastian yang jelas di masa depan, apakah kontrak mereka akan diperpanjang oleh perusahaan ataukah tidak. Juga sebagai akibat dari tidak nyatanya hasil yang telah susah payah mereka kerjakan. Proses produksi yang mereka lakukan selama berjam-berjam berada di tempat kerja, seakan sia-sia karena tidak mampu mereka ketahui wujud nyatanya dalam pengertian sebagai seorang pekerja yang mencipta.&lt;br /&gt;     &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Alienasi&lt;/span&gt; merupakan proses menuju keterasingan, sebuah keadaan di mana pekerja merasa terasing dari lingkungannya. Keterasingan tersebut dapat berupa keterasingan pekerja terhadap hasil produksinya, keterasingan pekerja terhadap profesi yang digelutinya sendiri, keterasingan pekerja terhadap lingkungan sosialnya, dan keterasingan terhadap sifat manusiawinya sebagai seorang yang memiliki daya cipta.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;       Bagaimana &lt;/span&gt;keterasingan pekerja terhadap hasil produksinya telah dibahas dengan baik dalam Marxisme. Intinya, seorang pekerja tidak lagi memiliki hak secara penuh atas hasil pekerjaannya. Untuk keterasingan pekerjaan terhadap profesinya sendiri dapat dilihat pada banyaknya keluhan para pekerja terhadap pekerjaan mereka. Mereka mengeluhkan gaji yang tidak sesuai dengan jam kerja yang dijalani, mereka mengeluhkan banyaknya peraturan-peraturan yang harus dipatuhi, mereka mengeluhkan hubungan yang tidak sehat antara diri mereka dengan atasan, mereka mengeluhkan tidak adanya kemungkinan karir di dalam pekerjaan mereka, mereka mengeluhkan bagaimana jika pekerjaan yang ada sekarang ditinggalkan karena di luar pekerjaan yang dipegangnya sekarang belum tentu ada pekerjaan lain yang mana berarti akan menjadi pengangguran. Dengan kata lain, pekerjaan yang digeluti oleh seorang pekerja lebih banyak didasarkan pada faktor keterpaksaan dari pada faktor bakat, kemampuan, atau pun ketrampilan. Mereka mau tidak mau harus menjalani pekerjaan yang seharusnya tidak dikerjakan oleh mereka. Luar biasanya, manusia memiliki kemampuan yang luar biasa untuk terbiasa dengan apa pun.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;       Bentuk&lt;/span&gt; keterasingan yang ketiga, yaitu keterasingan terhadap lingkungan sosialnya. Di sini seorang pekerja berhadapan dengan jam kerja yang panjang di mana kemungkinan baginya untuk beraktivitas lain menjadi kecil. Dalam satu hari yang jumlah jamnya adalah 24 jam seorang pekerja harus berada di tempat kerjanya selama 10 jam yang berarti adalah 12 jam total waktu yang diperlukannya untuk melakukan pekerjaannya di mana masing-masing 1 jam untuk mempersiapkan dirinya untuk berangkat menuju tempat kerjanya dan 1 jam dibutuhkan untuk pulang dari tempat kerjanya menuju rumahnya. Dari 12 jam yang tersisa dalam sehari 8 jam yang lain digunakan untuk beristirahat, tidur. Untuk ukuran normal, 8 jam merupakan waktu yang cukup bagi seseorang untuk beristirahat. Dengan perhitungan seperti ini, seseorang memiliki waktu 4 untuk melakukan aktivitas lain. Aktivitas apakah yang bisa dilakukan oleh waktu yang hanya 4 jam lamanya?&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pada &lt;/span&gt;tahap ini seorang pekerja berhadapan dengan ketidakmungkinannya melakukan aktivitas lain yang menurutnya mampu membawa hasil. Manusia merupakan mahkluk yang tidak pernah puas bagaimanapun kebutuhannya. Apalagi bagi seorang pekerja yang memang dari pekerjaannya tidak mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari. Jalan lain yang mungkin untuk menyiasati minimnya gaji yang didapat dari sebuah pekerjaan adalah dengan cara mengambil pekerjaan tambahan. Dengan begitu mereka mampu bertahan dari terpaan badai kebutuhan sehari-hari. Akan tetapi bagaimana dengan nasib seorang pekerja yang perhitungan jamnya telah disebutkan di atas?&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sedangkan&lt;/span&gt; yang terakhir, keterasingan terhadap sifat manusiawinya sebagai seorang yang memiliki daya cipta. Kepribadian sinisme merupakan predikator yang kuat dari terjadinya alienasi, yang mana menyebabkan timbulnya perasaan tidak puas pada pekerjaan. Predikator eksternal lain yang menyebabkan timbulnya alienasi adalah lingkungan pekerjaan itu sendiri.&lt;br /&gt;Kadang arus tekanan yang datang dari sebuah pekerjaan lebih besar dari yang mungkin ditangani oleh seseorang, yang mana seringkali menimbulkan munculnya anggapan pada diri seorang pekerja bahwa orang lain sedang mengeksploitasi dirinya. Seorang pekerja yang mengalami kelelahan fisik akibat beratnya pekerjaan dan jam kerja yang panjang, kelelahan mental yang diakibatkan oleh tekanan pekerjaan, atau pun kelelahan emosi, dapat menyebabkan terjadinya burnout.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Keadaan&lt;/span&gt; yang begitu menguras fisik dan mental seperti ini tidak boleh dibiarkan begitu saja. Seorang pekerja, bagaimanapun juga adalah manusia yang memerlukan perhatian dan perlakuan menyenangkan. Seringkali kita temukan atasan berbuat seenaknya terhadap. Mentang-mentang dia seorang manajer atau memiliki jabatan yang lebih tinggi dari orang lain, dia berbuat dan berkata seenaknya. Berapa banyak pekerja yang mengalami perlakuan seperti ini? Mengapa atasan atau orang yang lebih berkuasa cenderung untuk berlaku seenaknya? Apakah kedudukan mereka yang lebih tinggi memberikan hak pada mereka untuk berbuat atau berkata yang tidak menyenangkan pada pekerja yang kedudukannya lebih rendah? Apakah ada aturan tertulis dalam surat kontrak para pekerja bahwa seorang atasan bebas berbuat seenaknya pada bawahannya? Apakah seorang atasan harus mengucapkan sesuatu yang tidak menyenangkan pada bawahannya?&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ujung &lt;/span&gt;tombak sebuah perusahaan adalah bagian terkecil dari perusahaan itu, yaitu pekerja-pekerja paling kasar. Di dalam pabrik hal itu terwujud dalam pekerjaan produksi yang dilakukan oleh buruh. Di dalam bidang pelayanan seperti rumah sakit, hal itu terwujud dalam kecakapan masing-masing unit yang berhadapan langsung dengan pengguna jasa seperti kasir, suster, atau pun cleaning service. Melalui merekalah kebersihan, keteraturan, dan perawatan sebuah rumah sakit diserahkan. Seorang manajer tidak bisa apa-apa tanpa keberadaan masing-masing personil dari tiap unit. Hubungan yang sifatnya dua arah ini bukankah sebaiknya dijalankan dengan sikap saling menghormati di antara masing-masing pihak?&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Untuk&lt;/span&gt; menghindari terjadinya kebangkrutan, sebuah perusahaan selain memperhitungkan rugi laba juga harus memperhitungkan kemungkinan terjangkitnya alienasi dan burnout di kalangan pekerjanya. Jika sebuah perusahaan para pekerjaanya mengalami keadaan ini, besar kemungkinan sebuah perusahaan akan mengalami kemunduran. Pekerja yang telah sekian waktu bekerja di sebuah perusahaan dengan ketrampilan yang mencukupi untuk menangani pekerjaan di perusahaan tersebut mungkin saja mengundurkan diri dari perusahaan tersebut dengan harapan akan memperoleh pekerjaan lain yang lebih baik. Akibatnya, perusahaan harus mencari seorang pekerja baru lagi, dan harus melatihnya supaya memiliki ketrampilan yang memadai sebagaimana dimiliki oleh pekerja sebelumnya yang telah mengundurkan diri.&lt;br /&gt;Bisa saja sebuah perusahaan menggunakan sistem gali lubang tutup lubang dalam menyiasati hal ini. Akan tetapi setiap kali terjadi masuknya seorang pekerja baru, itu berarti pemugaran ulang dan pembelajaran ulang. Pekerjaan yang biasanya tertata rapi sesuai dengan cara-cara lama mungkin saja berubah. Akan baik sekali jika perubahan itu lebih baik dari sebelumnya. Tapi bagaimana jika perubahan itu jauh lebih buruk dari sebelumnya?&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Di sini&lt;/span&gt; perusahaan akan mengalami kerugian non-materi. Jika selama ini mereka tempat parkir yang tertata rapi, selalu bersih tiap pagi dan sore, kini perusahaan menghadapi tempat parkir yang amburadul dan lebih sering kotornya dibandingkan bersihnya. Bagaimanapun juga, sebuah perusahaan membutuhkan orang-orang yang telah mengenali lingkungan kerjanya dengan baik. Dengan begitu pemeliharaan lingkungan kerja dapat terjaga dan terpelihara dengan baik. bagaimanakah sebuah perusahaan menyikapi permasalahan internal di dalam perusahaannya??&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/607018575664909321-3208518594141321088?l=candrakris.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://candrakris.blogspot.com/feeds/3208518594141321088/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=607018575664909321&amp;postID=3208518594141321088' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/607018575664909321/posts/default/3208518594141321088'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/607018575664909321/posts/default/3208518594141321088'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://candrakris.blogspot.com/2009/01/alienasi-dan-burnout.html' title='&lt;blink&gt;Alienasi dan Burnout&lt;/blink&gt;'/><author><name>candrakris</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01491464186327619483</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://4.bp.blogspot.com/-h3YLepbKi5g/TWJYwq6xOAI/AAAAAAAAAIc/pAqdjIx0j5A/s220/BMK%2B3%2B218.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-607018575664909321.post-8532142366910167386</id><published>2009-01-21T11:43:00.000-08:00</published><updated>2009-01-22T14:27:30.131-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sosial'/><title type='text'>Bias Gender</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;blink&gt;Emansipasi &lt;/blink&gt;&lt;/span&gt;wanita yang berkembang begitu pesat saat ini ternyata belum mampu menghapus diskriminasi terhadap perempuan, khususnya dilingkungan kerja. Alasan utama yang mendasari hal ini adalah, sebagian besar orang-orang menyangkal suatu pekerjaan pada seseorang semata-mata atas dasar apakah orang itu laki-laki atau perempuan. Pada zaman di mana penyetaraan gender telah bergaung di mana-mana seperti saat ini, kita tidak bisa menutup telinga bahwa diskrimininasi gender masih terjadi di mana-mana, sadar atau tidak sadar, langsung atau tak langsung, terang-terangan mau pun sembunyi-sembunyi.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Bagaimana hal ini bisa terjadi? Secara tradisional, seorang lelaki telah dididik sejak kecil untuk menjadi seorang pekerja di masa depan. Sejak awal pertumbuhannya, anak lelaki diajarkan bahwa seorang lelaki dikenal dari pekerjaan yang mereka lakukan, dan semangat mereka sangat besar untuk berpikir mengenai pekerjaan apa yang nanti akan mereka lakukan. Di dalam permainan, hal ini ditanamkan dalam bentuk tim di mana satu dengan yang lain saling bekerjasama dengan kemampuan masing-masing yang dimiliki akan tetapi sekaligus juga bersaing di antara mereka sendiri. Hal itu dapat kita perhatikan pada permainan-permainan di mana anak laki-laki berperan di dalamnya, seperti benteng-bentengan, kartu, dan sebagainya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sebaliknya, secara tradisional perempuan tidak dididik untuk kebiasaan semacam ini. Ketrampilan yang mereka pelajari sungguh berbeda, mulai dari bagaimana melayani, mengatur kebersihan rumah tangga, patuh, dan sebagainya. Seringkali kita mendengar seorang ibu berkata pada anak perempuan, "Anak perempuan kok malas!" ketika seorang anak perempuan tidak mau menyapu, mencuci piring, atau mengerjakan pekerjaan rumah lainnya. Dalam jawaban yang diberikan atas pertanyaan, "apa cita-cita kamu jika besar nanti?" kita sering mendapat jawaban bahwa seorang perempuan ingin menjadi suster, bidan, sekretaris, atau pramugari; tapi kita jarang mendengar bahwa seorang perempuan ingin menjadi pilot, tentara, atau seorang mekanik. Begitu juga dengan anak laki-laki; orang tua sering merasa heran jika anak lelakinya tidak mau bermain dengan teman sebaya mereka di luar dan memilih menghabiskan waktu di rumah saja. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Hal lain yang juga berpengaruh pada tahap-tahap awal pendidikan ini adalah kecendrungan bagi anak laki-laki untuk bermain dengan anak laki-laki dan anak perempuan untuk bermain dengan anak perempuan. Secara spesifik permainan untuk anak laki-laki cenderung lebih kasar dan secara umum lebih kompetitif. Sedangkan permainan untuk anak perempuan kurang kasar dan kurang kompetitif sehingga bagi anak perempuan permainan untuk anak laki-laki selanjutnya, ketika berinteraksi dengan anak laki-laki yang sebaya, anak perempuan tidak siap untuk mempengaruhi - tindakan dan perhatian mereka cenderung untuk mendukung yang lain dan mempertahankan interaksi. Sebaliknya, interaksi pada anak laki-laki sering menyempit - mereka adalah subjek yang harus mencari perhatian dan dukungan dari rekan-rekan lain.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Hal lain yang berpengaruh pada awal pendidikan ini adalah karakter-karakter khusus yang mereka terima sebagai contoh dalam kehidupan mereka. Karakter-karakter yang mereka temui cenderung mengarahkan dengan tajam perilaku anak-anak yang berhubungan dengan jenis kelamin mereka. Anak belajar peran gender dengan cara yang sebagian besar sama, yaitu mempelajari perilaku sosial orang lain yang lebih dewasa - dengan menyaksikan dunia di sekeliling mereka dan belajar akibat dari tindakan yang berbeda. Dengan demikian, orang tua membentuk peran gender yang tepat pada anak, dan anak belajar apa budaya mereka dengan perilaku yang tepat untuk laki-laki dan perempuan dengan melihat bagaimana orang dewasa bertindak. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dalam perilaku yang berhubungan dengan gender, bagaimanapun juga, orang tua memberi respon yang berbeda pada anak laki-laki dan perempuannya. Akibat dari pendidikan ini, seorang anak berangsur-angsur mengidentifikasi sebuah grup dan mulai mengembangkan identitas gender dengan segala ciri-ciri yang dipatuhi di dalamnya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dengan keadaan pendidikan awal seperti ini apakah yang mungkin muncul bagi perempuan dalam karir mereka di masa depan? Diskriminasi gender, secara langsung mau pun tidak langsung. Kalau kita perhatikan di lingkungan kerja di mana laki-laki dan perempuan berada bersama-sama, mudah sekali kita temukan diskriminasi gender. Bukankah kita sering mendengar kalimat seperti ini, "Jangan disuruh yang berat-berat, kasihan perempuan." Secara tidak langsung hal ini mengindikasikan adanya diskriminasi gender. Dengan sangat halus hal itu menyiratkan pengertian bahwa sekali pun berada dalam profesi yang sama ternyata perempuan masih dipandang dengan sebelah mata, satu hal yang sepertinya harus segera kita perbaiki! &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Begitu juga dengan seloroh-seloroh jorok yang terjadi di tempat kerja. Seringkali di tempat terjadi obrolan-obrolan cabul tentang perempuan terjadi di antara laki-laki, akan tetapi percakapan yang riuh itu segera terhenti jika rekan perempuan mereka kebetulan mendatangi mereka. Begitu juga dengan sentuhan-sentuhan ringan, di mana keakraban antara satu pihak dengan pihak lain dijadikan sarana untuk memuaskan hasrat yang paling kecil. Kalau kita mau memperhatikan: lebih banyak mana, perempuan yang dicubit oleh laki-laki atau laki-laki yang dicubit oleh perempuan? Kita pasti sepakat bahwa lebih banyak perempuan yang dicubit oleh laki-laki dibandingkan dengan yang sebaliknya terjadi. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Selain gangguan fisik yang nyata seperti telah disebutkan, ada juga gangguan non fisik pada perempuan yang bekerja bersama laki-laki. Gangguan tersebut dapat berupa gosip di mana perempuan sering dijadikan sebagai objek pasif bahan pembicaraan rekan-rekan laki-laki mereka sendiri (entah dengan kecantikan dan keindahan tubuhnya atau pun dengan ketidakcantikan dan ketidakindahan tubuhnya). &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tampaknya perjuangan kaum perempuan untuk penyetaraan gender masih harus menempuh jalan yang panjang. Di sini mereka tidak hanya berhadapan dengan lingkungan kerja mereka tapi juga dengan budaya yang melingkungi diri mereka sendiri. Perubahan yang mereka lakukan harus sejalan dengan perubahan pandangan pada pihak laki-laki. Artinya, cara laki-laki dalam memandang dunianya juga harus diubah sehingga mereka tidak lagi menggunakan kacamata tradisional. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Akan tetapi bukan hanya cara pandang kaum laki-laki yang harus diubah. Sebagian besar perempuan masih berpikiran tradisional di mana untuk jenis-jenis pekerjaan mereka masih mengalah pada laki-laki. Bukankah untuk pekerjaan-pekerjaan kasar perempuan cenderung mengharapkan laki-laki yang melakukannya? Dengan kata lain, untuk mencapai penyetaraan gender yang utuh, perubahan harus dilakukan oleh kedua belah pihak. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Jalan keluar untuk mencapai hasil yang maksimal adalah dengan memberikan wawasan pada anak-anak sejak usia dini. Wawasan tersebut penting ditanamkan sejak dini karena itulah yang akan dibawa oleh anak-anak untuk memandang dunia mereka. Kalau secara tradisional anak lelaki lebih dididik untuk berkompetisi, maka sejak dini anak perempuan pun harus dididik untuk berkompetisi. Kalau seorang anak perempuan menjawab, "Ingin menjadi suster," ketika sebuah cita-cita pekerjaan ditanyakan padanya, dia harus diberikan wawasan tentang pekerjaan-pekerjaan di mana laki-laki lebih dominan dan menjelaskan bahwa hal itu adalah sama. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Secara teoretis penerapan dari sistem ini dapat mencapai hasil yang bagus. Dewasa ini telah banyak terjadi perubahan. Akan tetapi satu hal yang tetap menjadi tantangan bagi perempuan: tampaknya masih akan dijadikan sebagai objek pasif!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/607018575664909321-8532142366910167386?l=candrakris.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://candrakris.blogspot.com/feeds/8532142366910167386/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=607018575664909321&amp;postID=8532142366910167386' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/607018575664909321/posts/default/8532142366910167386'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/607018575664909321/posts/default/8532142366910167386'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://candrakris.blogspot.com/2009/01/bias-gender_275.html' title='&lt;blink&gt;Bias Gender&lt;/blink&gt;'/><author><name>candrakris</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01491464186327619483</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://4.bp.blogspot.com/-h3YLepbKi5g/TWJYwq6xOAI/AAAAAAAAAIc/pAqdjIx0j5A/s220/BMK%2B3%2B218.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
